“Kasih Menuntut Pengorbanan”: Renungan, Kamis 10 September 2020

0
2174

Hari Biasa (H)

1Kor. 8:1b-7,11-13; Mzm. 139:1-3,13-14ab,23-24; Luk. 6:27-38

Dalam kehidupan setiap hari ketika kita dikecewakan oleh seseorang, maka kita akan marah dan mencari cara untuk melawan atau membalasnya. Selama kita belum melawan atau membalasnya maka selama itu pula kita tidak akan merasa puas. Tak dapat dipungkiri, sebab itulah keadaan alamiah manusia yang cenderung tidak merasa nyaman akan sesuatu sehingga bereaksi demikian.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajak agar kita mengubah pola pikir kita yang demikian (kejahatan dibalas dengan kejahatan). Sebab kita harus mengasihi sesama kita meskipun mereka menjahati atau membenci kita. Sebagaimana yang Ia katakan dalam Injil, “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat kepada orang yang menguntuk kamu; berdoalah bagi orang yang membenci kamu”. Nah, ini merupakan hukum cintah kasih yang menjadi dasar kehidupan umat beriman sebagaimana telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kita melalui peristiwa penyaliban-Nya. Tentu hal ini bukanlah peristiwa tanpa makna, melainkan peristiwa cinta kasih, yang oleh karena cinta-Nya yang besar kepada manusia sehingga Ia mengorbankan diri-Nya untuk disiksa, disalibkan dan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita umat manusia.

Oleh sebab itu, sebagai umat yang percaya kepada Kristus sudah sepantasnya kita mengikuti teladan-Nya dengan cara berbuat tindakan kasih dan pengampunan bagi mereka yang berbuat salah kepada kita. Nah, yang menjadi pertanyaan untuk kita refleksikan, sudahkah kita berbuat baik dan mendoakan mereka yang berbuat jahat kepada kita? Ataukah kita hanya berbuat baik dan mendoakan mereka yang berbuat baik kepada kita? Jika kita hanya berbuat baik dan mendoakan mereka yang berbuat baik kepada kita maka kita tidak ada bedanya dengan orang jahat yang hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada mereka.

Oleh sebab itu, janganlah kita kecewa jika kita harus berbuat baik dan mendoakan orang yang berbuat salah kepada kita. Sebab, dengan cara demikian kita akan disebut anak-anak Allah, sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam Injil: “Tetapi kamu, kasihanilah musuhmu dan berbuat baiklah kepada mereka dan pinjamkanlah dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah, sebab Ia baik kepada orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat”.

(Fr. Rio Rumlus)

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami mengasihi sesama kami sebagaimana Engkau mengasihi kami sehabis-habisnya. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini