Hari Minggu Biasa XXIII (H)
Yeh. 33:7-9, Mzm 95:1-2,67,8-9; Rom. 13:8-10, Mat. 18:15-20.
Agustus 2018, Paus Fransiskus menyatakan bahwa hukuman mati tidak akan pernah diterima. Gereja katolik akan bekerja terus hingga hukuman mati dihapuskan di seluruh dunia. Juru bicara Vatikan, Greg Burke menjelaskan kunci dari pernyataan Paus adalah harga diri. “Paus mengatakan, tak peduli betapa menyedihkan kejatuhan itu, namun seseorang jangan pernah kehilangan harga dirinya”. Dengan demikian menjadi nyata bahwa Paus mengajak kita untuk memperhatikan saudara-saudari kita yang berbuat salah.
Bacaan-bacaan hari ini memberikan pesan utama yakni mengasihi sesama. Mengasihi sesama dalam arti peduli, perhatian terhadap sesama yang berbuat salah. Dalam bacaan pertama Allah berpesan kepada nabi Yehezkel bahwa ia harus senantiasa mengingatkan orang-orang yang berbuat jahat sehingga bisa bertobat. Jika tidak dilakukan, Allah sendiri akan meminta pertanggunjawaban dari Nabi Yehezkiel. Begitu juga dalam bacaan Injil. Yesus mengajarkan kepada para murid supaya ketika berhadapan dengan saudara kita yang berbuat salah tegurlah ia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkannya maka kita mendapatkannya. Tetapi jika tidak, maka kita harus mengundang seorang atau dua orang untuk minta keterangan. Dan jika ia tidak mendengarkan juga, maka sampaikanlah kepada jemaat.
Perintah Allah kepada Nabi Yehezkiel dan para murid, mau mengajak kita untuk senantiasa memperhatikan sesama yang telah berbuat salah. Ketika kita memperhatikan dan menegur mereka yang berbuat salah atau berselisih, maka kita menunjukkan sikap peduli terhadap sesama. Dengan melakukan tindakan tersebut, rasul Paulus mengatakan bahwa kita melakukan tindakan kasih. Kasih yang peduli dan perhatian terhadap sesama. Kasih itulah dasar semua perintah. Kasih menjadi kemungkinan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang salah. Oleh karena itu dalam segala hal, kasih harus dikedepankan.
Lewat bacaan-bacaan hari ini kita dapat belajar bahwa ketika berjumpa dengan saudara-saudari kita yang melakukan kesalahan, hal pertama yang harus kita lakukan yakni peduli. Dengan kepedulian berarti kita prihatin terhadap mereka. Jangan biarkan begitu saja. Yang kedua, tegurlah ia dan berilah nasihat. Ketika kita memberikan nasihat dan ia tidak berubah, maka panggilah beberapa orang; dua atau tiga orang untuk menyelesaikan masalahnya. Dan jika tidak undanglah jemaat untuk bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Dan yang ketiga yakni bawalah dia dalam doa. Sebab dalam doa Tuhan hadir dan bertindak atas segala perkataan yang kita bawa. Dengan bertindak demikian, kita telah menunjukkan kasih terhadap sesama kita.
(Fr. Jito Sanggale)
“Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali” (Mat. 18: 15b).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukan aku untuk mengasihi sesamaku yang bersalah. Amin











