“Semangat Hidup Baru”: Renungan, Jumat 04 September 2020

0
2011

Hari Biasa (H)

1 Kor. 4: 1-5; Mzm. 37: 3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5: 33-39.

Dalam hidup sehari-sehari, orang seringkali saling menghakimi tanpa ada bukti yang jelas. Hal ini terjadi karena setiap pribadi tidak mampu untuk menggunakan akal budi dan hati nurani dengan baik. Rasul Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan kepada kita agar jangan menghakimi sebelum waktunya. Yang berhak untuk menghakimi kita hanyalah Allah.

Pertanyaannya bagaimana agar kita dapat menggunakan akal budi dan hati nurani dengan baik? Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang datang untuk menunjukkan cara agar kita dapat menggunakan akal budi dan hati nurani dengan baik. Yesus mengajarkan agar kita mesti meninggalkan semangat hidup yang lama dan beralih ke semangat hidup yang baru. Hal ini nampak dalam nasihat Yesus terhadap orang-orang farisi. Mereka menganggap diri mereka lebih suci dari murid-murid Yesus karena mereka berpuasa dan murid-murid Yesus tidak.

Orang farisi berpikir bahwa berpuasa hanya tentang makan dan minum. Di sini Yesus hadir untuk meluruskan pikiran mereka. Berpuasa itu tidak hanya tentang makan dan minum. Berpuasa berarti melepaskan pikiran dan hati kita dari hal-hal duniawi dan berfokus dengan baik pada Kristus. Inilah yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang farisi sehingga mereka tetap memegang teguh aturan yang berlaku. Sikap inilah yang membuat mereka tidak pernah hidup dengan semangat yang baru. Mereka terlalu terbawa dengan aturan yang lama sehingga hidup baru yang ditawarkan oleh Yesus tidak mereka indahkan.

Hari ini, lewat rasul Paulus dan orang-orang farisi, Yesus mengingatkan kepada kita agar jangan terus tinggal dalam semangat hidup yang lama. Kita mesti beralih ke semangat hidup yang baru. Seluruh hidup lama harus kita tinggalkan. Jika kita tetap hidup dalam semangat yang lama maka kita akan terus menghakimi orang lain dan berpikir bahwa kitalah yang paling benar.

Kita perlu beralih ke semangat hidup yang baru. Agar kita dapat dengan sungguh-sungguh merasakan dan memaknai keadiran Kristus dalam hidup  kita. Kita harus mampu untuk merasakan dan memaknai kehadiran Kristus dalam hidup kita. Dengan begitu kita akan dapat menghargai perbedaan dan mengakui kehadiran orang lain di sekitar kita. Akhirnya kita akan makin dekat dengan Tuhan sumber kehidupan.

(Fr. Adiputro Koraag)

“Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa(Luk. 5: 35).

Marilah berdoa:

Tuhan, perbaharuilah semangatku selalu agar dapat memaknai kehadiran Kristus di dalam diriku dan di dalam sesamaku. Tuntunlah aku dengan Roh Kudus-Mu agar aku dapat bertindak sesuai kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini