“Tak Takut Karena Allah”: Renungan, Sabtu 29 Agustus 2020

0
1584

Pw Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Mrt (M)

Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29.

Hari ini Gereja Universal memperingati wafatnya Yohanes Pembaptis. Sejak awal, ia sudah dipersiapkan untuk meluruskan jalan Tuhan. Hal itu nyata dalam hidupnya, lewat sikap taat kepada Allah. Ia tak segan-segan bersuara untuk menyerukan kebenaran.

Injil hari ini mengisahkan kematian Yohanes Pembaptis. Ia tak segan-segan menegur Herodes di depan umum karena memperistri Herodias, istri Filipus saudaranya. Ia tahu bahwa tindakan itu tak sesuai dengan kehendak Allah dan pastinya menyakiti hati Allah. Dengan menyerukan kebenaran ia menunjukkan keyakinan akan perlindungan Allah. Perlindungan Allah itu nyata dalam bacaan pertama: ”Sungguh, pada hari ini Aku akan membuat engkau menjadi kota yang berkubu,  tiang besi, tembok tembaga untuk melawan negeri ini; sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.”

Yohanes Pembaptis tahu bahwa Allah adalah perisainya, benteng hidupnya, dan kubu pertahanannya. Karena itu ia sama sekali tidak gentar sedikitpun untuk melakukan perintah Allah. Ia tahu bahwa dengan melaksanakan perintah Allah, maka Allah akan menyertainya sehingga maut bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi. Karena sikap kenabiannya dalam menyuarakan kebenaran itulah, ia ditangkap, dipenjara dan dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya.

Di masa sekarang ini banyak orang lebih memilih diam ketika melihat sesuatu yang salah, lebih memilih diam ketika melihat ketidakadilan, bahkan lebih parahnya lagi mereka justru ikut ambil bagian dalam melakukan tindakan kejahatan atau ketidakadilan. Mata hati mereka telah dibutakan oleh kesenangan dan kenyamanan duniawi sehingga mereka bersikap cuek, acuh tak acuh, dan masa bodoh, terhadap ketidakadilan yang terjadi. Banyak yang lebih suka berada pada posisi aman tanpa memedulikan realitas di sekitarnya.

Allah justru menghendaki agar kita bertindak sebaliknya. Allah menghendaki kita agar menjadi pribadi-pribadi yang peka dalam melihat ketidakadilan dan senantiasa menyuarakan kebenaran. Allah menghendaki kita sebagai umat-Nya untuk tidak takut dan gentar dalam menyuarakan kebenaran. Kita tidak boleh takut untuk melawan jika perbuatan itu tak sesuai dengan kehendak Allah, kita tidak perlu takut bersuara untuk menyebarluaskan perintah Allah, Sabda kebenaran Allah bagi dunia.

Belajar dari sikap ketaatan Yohanes Pembaptis, semoga kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang lebih peka lagi dalam melihat ketidakadilan serta tak segan-segan dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran Allah agar semakin banyak orang yang dalam hidupnya berlaku sebagai anak-anak Allah yang taat kepada-Nya.

(Fr. Filbert O. C. Ngafrehen)

“Sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan”
(Yer. 1:19b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sertailah aku dan buatlah diriku selalu melaksanakan perintah-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini