Hari Biasa (H)
1 Ptr. 1:3-9; Mzm. 111: 1-2,5-6,9,10c; Mrk. 10:17-27
Kekayaan merupakan suatu hal yang sangat menarik. Sedikit sekali penghuni dunia ini yang tidak ingin kaya dalam hidupnya. Dikatakan demikian karena pada dasarnya sangat banyak orang yang mencari, mencintai bahkan mengutamakan kekayaan. Sehingga bisa dikatakan bahwa hidup menjadi kaya merupakan suatu impian bagi setiap orang dalam zaman ini.
Bacaan Injil yang kita dengarkan pada hari ini berbicara tentang hal yang sama yaitu kekayaan dan hubungannya dengan Kerajaan Surga. Berkaitan dengan Kerajaan Surga, orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus menganggap diri mereka layak untuk masuk surga karena ada dua alasan: pertama, mereka adalah keturunan Abraham, dan kedua, mereka menjalankan hukum Taurat.
Dalam Injil dikisahkan seseorang datang kepada Yesus untuk mempertanyakan hal itu. Ia berlari-lari datang kepada Yesus dan berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Ia menambahkan lagi, semua perintah Allah telah aku turuti pada masa mudaku.
Yesus menjawab orang muda itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan Yesus, orang itu menjadi sedih, lalu pergi dengan kecewa sebab banyaklah hartanya.
Bacaan yang kita dengarkan pada hari ini memberikan inspirasi yang baik bagi kita semua. Terlebih khusus kita sebagai orang-orang Kristen yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Memang harus diakui bahwa ikatan yang paling sulit menghalangi kita untuk mengikuti Yesus adalah kekayaan harta benda.
Orang bisa saja menghancurkan hidupnya dengan harta dan uang yang banyak. Bahkan karena harta kekayaan, orang tua dan anak-anak, saudara bisa berkelahi bahkan saling membunuh. Akibatnya mereka sulit untuk menghayati tugas dan perutusan mencintai Allah dan sesama. Maka benarlah apa yang dikatakan Yesus “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk berefleksi mengenai kekayaan yang sejati. Alangkah bahagianya jika dalam kehidupan sehari-hari, hati kita, jiwa dan pikiran kita selalu merasa kaya. Salah satu caranya adalah kita mensyukuri berkat yang ada tanpa terus mengangan-angankan hal-hal yang tidak perlu. Harta yang kita miliki di dunia hanyalah sebagai alat bantu bagi kita untuk menemukan harta abadi yaitu kehidupan kekal di surga.
(Fr. Ferdi Poida)
“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah” (Mrk. 10:25).
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarlah kami melakukan kehendak-Mu. Amin.











