“Setia kepada Allah”: Renungan, Jumat 25 Mei 2018

0
3196

Hari biasa (H)

Yak. 5:9-12; Mzm. 103: 1-2, 3-4, 8-9, 11-12; Mrk 10:1-12

Terkadang manusia memiliki kecenderungan menghindar dari apa yang tidak diinginkannya ataupun tidak dibutuhkannya. Keinginan dan pilihan tentunya berkaitan erat dengan pilihan hidup.

Setiap orang pasti punya pilihan, namun pilihan yang benar ialah selalu sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri oleh karena kesetiaan-Nya dan oleh karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia.

Melalui bacaan-bacaan hari ini Yesus mengingatkan kita bahwa kita adalah suatu persekutuan orang beriman untuk hidup sesuai dengan kehendak dan kasih Tuhan sendiri. Dengan demikian, kita akan hidup senantiasa berbahagia.

Bacaan pertama mengajak kita untuk selalu berkata benar sesuai hati nurani kita dengan menyerukan: “Yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukum”.

Dalam bacaan Injil, Yesus mengajar orang banyak untuk melepaskan ketegaran hati yang menjadi kelemahan manusia sendiri. Ia mengajarkan mereka tentang bagaimana awalnya manusia “laki-laki dan perempuan” diciptakan dan pada akhirnya akan kembali bersatu menjadi satu daging. Ia menekankan bahwa “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”.

Dengan seruan ini Yesus mengajar orang banyak untuk siap sedia dan sadar bahwa Tuhanlah yang Mahakuasa, Dialah yang memberikan dan menyatukan segala sesuatu. Kita tak punya kuasa untuk menceraikan apalagi menghancurkan karya Allah. Itu adalah dosa. Sebaliknya dengan rendah hati, kita perlu menyadari kehadiran Allah dalam hidup kita, dalam keluarga kita dan dalam masyarakat.

Kita sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan selalu dan senantiasa hidup dan berdampingan dengan berbagai bujukan duniawi. Hati nurani kitalah yang merupakan tempat di mana kita selalu terarah pada apa yang baik dan benar. Allah penuh dengan kebaikan dan Ia adalah kebenaran.

Jalan yang dapat menghantar kita kepada-Nya ialah Yesus Kristus sendiri. Ketika kita menjalani hidup sebagaimana sama seperti ajaran Yesus, maka dengan sendirinya kita menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah mereka yang taat mendengarkan dan setia melakukan kehendak dan perintah Allah dalam hidupnya.

Marilah kita berdoa bersama bunda Maria, Bunda Yesus dan sekaligus Bunda Gereja agar kita dipenuhi dengan kasih dan dituntun oleh kehendak Allah yang mau membimbing kita pada keselamatan kekal.

(Fr. Kenny Niunifaat)

“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk. 10:9).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku agar selalu setia pada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini