“Ubahlah Aku, Tuhan!” : Renungan, Kamis 30 Juli 2020

0
2132

Harian Biasa XVII

Yer. 18:1-6; Mzm. 146: 2abc,2d-4,5-6; Mat 13:47-53

Orang yang hidup baik dan orang yang hidupnya kurang baik tentulah berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Itulah kenyataan dunia sekarang; ada kebaikan serentak juga ada kejahatan. Mereka hidup berdampingan tetapi saling melawan. Harus diketahui bahwa setiap orang pada dasarnya adalah baik, karena Tuhan Yang Mahabaik membagikan kebaikan-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Tetapi manusia seringkali merusak citra Allah dengan menjauhi perintah Allah. Dengan demikian manusia jauh pada jalan keselamatan. Tetapi yang terpenting ialah, bagaimana manusia itu berbalik pada jalan yang benar, yaitu jalan keselamatan.

Bacaan Injil hari ini telah memisahkan dan membuat perbedaan antara yang baik dan kurang baik. Hal itu dikisahkan oleh Yesus lewat perumpamaan tentang pukat. Bahwa ikan yang baik dikumpulkan mereka ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Yesus menginginkan kita untuk belajar dari perumpamaan ini. Orang yang hidup baik diumpamakan seperti ikan yang baik. Begitu pula sebaliknya, ikan yang tidak baik diumpamakan seperti orang yang hidupnya kurang baik. Jelas bahwa Yesus membedakan dan memisahkan antara yang baik dan yang kurang baik. Tetapi ia selalu terbuka menerima yang kurang baik itu datang kepadaNya. Oleh karena itu, Ia mau agar kita bisa memberikan diri seutuhnya untuk dibentuk dan dirubah lewat mendengar, memahami dan melaksanakan apa yang sudah difirmankan-Nya. Sudah seharusnya segala yang tidak baik dibuang dan ditinggalkan. Hal serupa juga ditegaskan dalam bacaan pertama. Tuhan bersabda kepada Yeremia, bahwa pergilah segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan sabda-Ku kepadamu. Sebuah tawaran dan ajakan yang baik dari Tuhan kepada kita. Tuhan mau datang untuk semua orang yang mau merubah diri dengan pertobatan.

Tuhan pasti akan menunjukkan bagi orang yang mau mengikuti-Nya menuju pada jalan keselamatan. Tuhan telah bersabda, “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kalian di tangan-Ku.” Kebaikan Tuhan sungguh luar biasa kepada kita. Kita hanya perlu berusaha menyerahkan diri kita seutuhnya untuk dibentuk. Kita sangat mengharapkan pertolongan dari Tuhan yang adalah sumber hidup. Mari kita serahkan diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Seperti pemazmur yang mengatakan, “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya. “

( Fr. Jansen Buarlely)

“Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu” (Yer. 18:2)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikalah kami pribadi-pribadi yang dengan mudah dapat mendengar, memahami dan melaksanakan semua perintah-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini