“Dipanggil Untuk Melayani”: Renungan, Sabtu 25 Juli 2020

0
2746

Pesta S. Yakobus Rasul (M)

2 Kor. 4:7-15; Mzm. 126: 1-2ab,3,4-5,6; Mat. 20:20-28

Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu kecenderungan manusia adalah keinginan untuk mendapatkan kekuasaan dan memiliki pengaruh. Tak jarang banyak orang mengincar posisi karena tertarik pada fasilitas dan keuntungan yang akan didapat. Semakin tinggi jabatannya semakin pula ia dihormati, dilayani dan diistimewakan. Tak heran bahwa ada kemungkinan kepemimpinan mengarahkan seseorang pada keinginan akan kehormatan. Seseorang tergoda menjadi pemimpin dilandaskan dengan prioritas kehormatan paling utama daripada pelayanan kepada orang lain.

Injil hari ini menceritakan tentang pengajaran Yesus kepada para murid mengenai kepemimpinan dan perutusan. Yesus menegaskan bahwa dasar kepemimpinan itu bukan dilihat dari gelar kehormatan melainkan pelayanan/melayani. Hal ini menjadi jelas di mana Yesus menunjukkan bagaimana semangat yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mau menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan. Siapa yang mau menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hambamu.

Dengan hal ini Yesus mau menunjukkan sikap seorang pemimpin. Menjadi seorang pemimpin berarti siap untuk melayani dengan segenap hati, setia dan rela menderita serta tanpa ada keinginan untuk menguasai atau menginginkan suatu kehormatan.  Artinya bahwa Seorang pemimpin justru dituntut untuk melayani dengan kerendahan hati. Tidak mengutamakan pada kepentingan pribadi.

Kepemimpinan merupakan suatu perutusan bukannya menjadi sarana untuk mengembangkan kekuasaan dan memperoleh kehormatan. Hal ini menjadi kesempatan untuk bertindak atau melakukan sesuatu yang bertujuan demi melayani orang lain. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani bahkan memberikan nyawa-Nya demi keselamatan banyak orang. Atas hal ini, Yesus telah memberi teladan yang sangat sempurna bagi kita.

Yesus datang ke dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Artinya Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjadi pelayan dan hamba bagi orang lain dengan sikap penuh kerendahan hati. Sebab tanpa kerendahan hati maka sebuah pelayanan hanya akan sebatas sebuah ungkapan semata. Kerendahan hati mampu menjauhkan kita dari sikap egoisme, kesombongan, gila hormat dan lainnya. Semoga lewat bacaan-bacaan hari ini hati dan pikiran kita terbuka untuk selalu terarah pada pelayanan. Kita dipanggil untuk melayani sesama tanpa memikirkan kepentingan pribadi.

(Fr. Rewilianus Paisu)

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu yang lembut dan rendah hati dalam pelayanan dan perutusan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini