“Pilih Yang Baik atau Jahat?”: Renungan, Minggu 19 Juli 2020

0
2278

Hari Minggu Biasa XVI (H)

Keb. 12:13,16-19; Mzm. 86:5-6,9-10,15-16a; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43 atau Mat. 13:24-30.

Allah yang diimani oleh orang beriman adalah Allah yang Mahakuasa. Biarpun Ia adalah Mahakuasa tetapi Ia tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan-Nya. Kekuasaan-Nya menjadi dasar seluruh perbuatan-Nya dengan berlandaskan kebaikan dan keadilan. Maka kepada mereka yang percaya, Allah membuktikan belas kasih-Nya, sebagaimana Tuhan memperlihatkan belas kasih, adil dan murah hati, maka orang yang percaya kepada-Nya pun dituntut mempunyai sikap peri kemanusiaan dan belas kasih terhadap sesama. Sedangkan untuk mereka yang tidak percaya dan orang-orang yang jahat, Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat. “Anak-anak-Mu Kauberi harapan yang baik ini; Kau berikan kesempatan untuk bertobat apabila mereka berdosa” (Keb. 12:19).  

Injil hari ini berbicara mengenai tumbuhan gandum dan ilalang. Gandum menyimbolkan orang-orang yang baik, sedangkan ilalang menyimbolkan orang-orang yang jahat. Di daerah Galilea tumbuhan semacam ilalang yang daunnya hampir sama dengan daun gandum; tetapi bulir ilalang itu sangat berlainan dengan bulir gandum; dan orang baru dapat membedakan antara lalang dan gandum ketika gandum dan lalang itu mulai berbulir. Agar tumbuhan gandum itu dapat bertumbuh dengan baik, harusnya ilalang itu dicabut dan dibuang. Namun dalam perumpamaan itu ilalang tersebut dibiarkan tumbuh bersama gandum. Apa maksud Yesus memakai perumpamaan ini? Selama firman Tuhan masih ditaburkan di dunia, selama itu pula iblis terus berusaha menghancurkannya. Kebaikan itu akan terus bersama-sama dengan kejahatan. Dalam rentang waktu yang panjang Allah memberikan waktu kepada orang-orang yang baik untuk tetap bertekun dalam kebaikan dan cinta kasih, hidup dalam kebenaran dan keadilan dan  kepada mereka yang berbuat jahat, Tuhan memberikan waktu yang cukup untuk merubah diri, bertobat dan kembali kepada Allah. Pembaharuan diri dan pertobatan serta setia berbakti kepada Allah menjadi syarat untuk keselamatan pada hari penghakiman.

Ajaran Yesus ini menuntut kita untuk mawas diri dan tetap bertekun dalam kebaikan. Ada saat tertentu, kita bisa jatuh dalam kejahatan dan kedosaan, tetapi Allah selalu memberikan waktu yang cukup bagi kita untuk bertobat. Berbuat baik dan jahat selalu ada “di tangan kita”, tapi ingat, perbuatan baik menghantar kita untuk bersatu dengan Allah, sebaliknya perbuatan jahat menjauhkan kita dari Allah dan itu berarti rahmat surgawi turut pula jauh dari diri kita.

(RD. Melky Malingkas)

“Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai” (Mat. 13:30).

Marilah berdoa:

Tolonglah kami, ya Tuhan, agar diubah menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus. Biarlah kuat-kuasa-Mu mengalir di dalam dan melalui diri kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini