Hari Biasa (H)
Yes. 38:1-6,21-22,7-8; Yes.38:10,11,12abcd,16; Mat. 12:1-8.
Dalam Agama dan Budaya Yahudi, Hari Sabat adalah hari istirahat. Hari di mana orang-orang Yahudi beribadat dan memperingati karya penciptaan Allah. Tuhan memberikan hari istimewa ini dengan peraturan yang baik yakni setelah enam hari bekerja, Tuhan menyempatkan satu hari untuk beristirahat, itulah yang kemudian dinamakan hari sabat, hari di mana Tuhan beristirahat seperti yang dikisahkan dan ditetapkan dalam Taurat. Hari Sabat pun selain menjadi norma agama juga meresap dalam kehidupan sosial Bangsa Yahudi sehingga sebagai penjaga norma-norma ini muncullah beberapa kelompok orang Yahudi salah satunya Golongan Farisi.
Bacaan Injil begitu menarik karena perkataan Kristus kepada orang-orang Farisi ketika mereka mencemooh tindakan para murid yang dianggap melanggar Hukum Taurat. Terkesan bahwa Kristus adalah penentang agama dan adat-istiadat Yahudi. Akan tetapi kebenaranlah yang disabdakan oleh-Nya, yaitu bahwa belaskasihanlah yang terutama di dalam hukum. Hukum Taurat menjadi tanda bahwa Allah ingin supaya umat-Nya lebih mengenal-Nya dalam ketaatan dan belaskasihan bukan dalam aturan dan sanksi hukuman. Tindakan Kristus yang mengkritik perkataan Orang Farisi menyiratkan kepedulian-Nya kepada mereka yang lapar dan mengalami ketidakadilan oleh karena penerapan hukum yang tumpul ke atas.
Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama menubuatkan kasih sayang Allah kepada Raja Hizkia yang sekarat. Allah menjanjikan umur yang panjang kepada Hizkia dan ketenteraman kepada keturunannya. Sejak semula Allah itu berbelaskasih dan tak pernah menghukum mereka yang taat dan melaksanakan perintah kasih-Nya. Perdebatan Kristus dengan Golongan Farisi menegaskan kembali bahwa Pribadi Kristus adalah kehadiran kasih Allah yang sungguh nyata dalam kehidupan masyarakat Yahudi saat itu.
Sabda Tuhan pada hari ini menunjukkan dua sisi kehadiran kasih dalam kehidupan manusia, dalam perkataan dan perbuatan. Sabda Allah bagi Hizkia menjadi karunia hidup atas ketaatan manusia kepada Allahnya. Tindakan Yesus dalam Bacaan Injil yang membela para murid-Nya dan juga dalam kehidupan-Nya yang selalu berpihak kepada orang-orang kecil, memanggil setiap orang beriman bahwa itulah identitas mereka. Ketaatan terhadap aturan dan hukum, pemahaman dan pengetahuan yang mendalam terhadap norma-norma, tak akan membuahkan apa-apa jika tanpa kasih dalam praksis kehidupan. Hukum yang tertinggi ada dalam Kristus, dan Dia mewariskan kepada umat beriman Hukum Kasih.
(Fr Albertus Ranbasar)
“Yang Kukehendaki adalah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat. 12:7).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk dapat memahami sabda-Mu, agar di dalam diri-Mu kami dapat saling mengasihi sesama kami. Amin.











