Hari Biasa (H)
Yes. 1:11-17; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 10:34-11:1
Bagi kita semua yang percaya akan Yesus Kristus, Yesus sungguh merupakan sumber dan tujuan seluruh hidup kita. Dan mengikut Dia dalam segala jalan hidup-Nya merupakan suatu panggilan bagi kita semua. Sebagai orang yang percaya, kita tentu akan berusaha untuk menanggapi panggilan itu dan berjuang untuk mengikuti Dia. Namun, kita tentu tidak lupa bahwa mengikuti Yesus merupakan suatu pilihan yang menantang. Memilih untuk mengikuti Dia berarti siap menerima tantangan yang telah diberikan. Kita tentu tidak lupa bahwa mengikut Yesus bukanlah suatu perjalanan yang mudah dan senantiasa dipenuhi dengan sukacita.
Dalam Injil hari ini, Yesus sendiri berpesan bahwa Ia datang bukan untuk membawa kedamaian, melainkan perpecahan. Seperti yang kita tahu bahwa perpecahan merupakan lawan dari perdamaian, perpecahan dapat mengakibatkan perang. Dan dalam keadaan itu, kedamaian tentu tidak ada. Namun, kita harus melihat juga konteks dari perpecahan yang Yesus bawa itu. Tentu perpecahan yang Yesus maksud bukanlah perpecahan seperti yang kita tahu yang akan mendatangkan perang. Nampaknya perpecahan yang Yesus maksudkan adalah perpecahan yang akan menyadarkan orang akan pentingnya kedamaian itu. Dengan begitu kedamaian yang sesungguhnya dapat tercipta.
Apa yang menjadi tujuan Yesus dengan menyatakan bahwa diri-Nya datang untuk membawa perpecahan? Tentu kita sadar bahwa jika Yesus datang membawa kedamaian, itu hanya akan menjadi kedamaian instan yang akan membuat orang kurang menghargainya dan kurang berjuang untuk menjaganya. Karena itu Ia datang membawa perpecahan, supaya orang berusaha melakukan berbagai upaya kebaikan untuk dapat mencapai kedamaian itu. Kedamaian yang diperjuangkan akan membuat orang semakin menghargai kedamaian itu dan berusaha menjaganya.
Tindakan utama yang menjadi kunci untuk mencapai kedamaian dari perpecahan itu ialah melakukan kebaikan. Itulah juga yang dipesankan Nabi Yesaya dalam bacaan pertama. Ia mengajak setiap orang untuk berhenti berbuat jahat dan mulai melakukan kebaikan karena itulah yang berkenan bagi Allah. Kita pun dipanggil untuk melakukan kebaikan. Dengan begitu, dalam situasi sesulit apapun, kita tetap mampu menjadi pembawa kedamaian. Bahkan di tengah perpecahan kita bisa menjadi sumber kedamaian yang dapat mempersatukan orang yang sedang terpecah-pecah.
Marilah kita selalu berusaha melakukan kebaikan, supaya seperti yang diharapkan Yesus, kita bisa menjadi pengikut-Nya yang benar yang dapat membawa kedamaian yang sejati bagi semua orang.
(Fr. Gabriel Billy Runtu)
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia tidak layak bagiku” (Mat. 10:38)
Marilah berdoa:
Ya Yesus, bantulah kami untuk melakukan kebaikan demi terciptanya kedamaian yang sejati. Amin











