“Menonton Penabur di TV?”: Renungan, Minggu 12 Juli 2020

0
1952

Hari Minggu Biasa XV (H)

Yes. 55: 10-11; Mzm. 65: 10-14; Rm. 8: 18-23; Mat. 13: 1-23

Apakah dibolehkan mengikuti Misa melalui TV? Atau menerima Sakramen Tobat lewat telpon? Dulu, jawabannya, “Ibadat bukanlah tontonan.” Orang harus hadir di tempat Misa itu dirayakan. Jangan lupa, Paus Fransiskus menolak menjadikan Misa sebagai obyek untuk dipotret. Kini, Covid-19 melahirkan Habitus Baru: di rumah saja. Orang bekerja, beribadat, berdiskusi, ber-vidcon, dan belajar on line. Situasi ini membuka horison kita ke masa awal Kekristenan, ketika rumah keluarga menjadi rumah ibadat dan keluarga menjadi sel Gereja (Ecclesia domestica). Keluarga berkumpul dan beribadat di rumah. Dalam keluarga Sabda Allah ditaburkan dan bertumbuh subur, menyebar dan menghasilkan buah melimpah sampai ke Indonesia.

Bagaimana keluarga menjadi tanah subur bagi benih Sabda Tuhan? Hal itu tidak semata karena kecanggihan IT atau prestise tempat dan gengsi Misa yang berhasil diakses on line. Sebab Ibadat bukanlah tontonan atau acara hiburan rohani yang bisa dipilih sesuai selera. Ibadat adalah perjumpaan Allah dan Umat-Nya. Saat Allah menyapa Umat-Nya sebagai Bapa yang peduli, mencintai dan memelihara bahkan menyelamatkan mereka. Ibadat adalah saat Allah menaburkan Firman-Nya dalam hati Umat-Nya.

Kesuburan “tanah keluarga” berasal dari kerinduan dan hasrat serta fokus perhatian dalam mendengarkan dan merenungkan Sabda, serta kesediaan menyimpannya dalam ingatan budi dan kehendak hati, dan terlebih lagi dalam ketekunan melaksanakannya. Melalui semua kebajikan tersebut, Sabda Allah menjadi Roh yang menghidupkan setiap orang yang mendengarkannya dan menyatukan si pendengar dengan Kristus sebagai pelaksana Sabda Bapa. Keluarga menjadi tanah subur bagi benih Sabda Allah berkat kerinduan, ingatan dan komitmen serta ketekunan.

Keluarga yang demikian membuat setiap anggotanya menghayati ibadat sebagai saat persekutuan dengan sesama sebagai saudara dalam kesatuan Umat Allah, Tubuh Kristus dan Kenisah Roh Kudus. Itulah yang dihayati oleh Mgr. F.X. Van Thuan selama 13 tahun melalui Misa yang dirayakan seorang diri di antara tembok penjara. Umatnya tidak melihat tidak mendengarnya melalui medium apapun. Mereka tetap ingat dan yakin bahwa uskup mereka selalu merayakan Misa dan dalam keyakinan itu mereka bersatu dengan dia. Kehendak hati dan ingatan budi membuat mereka melihat dan mendengar Sabda Allah yang ditaburkannya menembus dinding-dinding penjara tempat Uskup mereka dikurung. Hasilnya Gereja Vietnam tetap hidup dan berbuah.

(RD. Julius Salettia)

“Firman yang keluar dari mulut-Ku idak akan kembali dengan sia-sia” (Yes. 55: 11).

Marilah berdoa:

Tuhan, buatlah mendengarkan dan melaksanakan Firman-Mu menjadi kesukaan kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini