“Bunda Maria: Penolong Hidup”: Renungan, Sabtu 20 Juni 2020

0
2904

Pw. Hati Tersuci Santa Perawan Maria (P)

Yes. 61:9-11; MT 1Sam.2:1,4-5,6-7.8abcd; Luk. 2:41-51.

Pada hari ini Gereja secara universal merayakan peringatan wajib Hati Tersuci Santa Perawan Maria. Ada keterkaitan penuh kasih antara Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria. Bunda Maria memiliki hati yang kontemplatif. Ia tahu bahwa ia telah menjadi bagian dalam karya perutusan Yesus dan ia selalu mempersiapkan dirinya dengan doa. Kita merayakan peringatan Hati Tersuci Bunda Maria, membuka wawasan kita untuk selalu bersukacita dalam hidup, apa pun situasinya, entah bahagia maupun menderita.

Dalam bacaan hari ini, penginjil Lukas memberikan kepada kita dua hal yang penting. Pertama, kita belajar untuk bersukacita di dalam Tuhan sebagaimana ditunjukkan oleh Bunda Maria dan St. Yusuf bersama Yesus. Keluarga kudus dari Nazaret ini bergembira dan bersukacita dengan berziarah ke Yerusalem. Bagi Maria dan Yusuf, ini adalah kesempatan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Yahwe. Bagi Yesus, ini adalah kesempatan untuk bersatu dengan Bapa di surga. Bapa telah mewahyukan diri-Nya kepada manusia sebagai Anak Allah. Masing-masing dari mereka menunjukkan sukacita tersendiri di hadapan Allah.

Kedua, kita melihat figur Bunda Maria dengan hatinya yang suci. Ia menunjukkannya melalui rasa tanggung jawab sebagai seorang ibu bagi anaknya Yesus Kristus. Dikisahkan bahwa setelah seharian perjalanan, mereka tidak melihat Yesus. Mereka mencari dan tidak menemukan-Nya. Dan ketika berjumpa dengan Yesus, Maria menunjukkan keibuan dan kesuciannya.

Saudara-saudari yang terkasih, marilah kita senantiasa belajar dari Bunda Maria. Bunda Maria telah menunjukkan sikap ketaatan, kesetiaan serta tanggung jawab dalam hidupnya. Semoga dalam menjalani kehidupan di dunia ini, kita senantiasa dimampukan untuk menjadikan Maria sebagai model dalam hal kesetiaan dan tanggung jawab.

(Fr. Amatus Simon Petrus Letsoin)

“Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapak-Ku?” (Luk. 2:49).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami senantiasa meneladani hidup dari keluarga Nazaret. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini