Hari Biasa (H)
1 Raj. 17:7-16; Mzm. : 4:2-3,4-5,7-8; Mat. 5:13-16.
Setiap orang beriman menerima karunia anak-anak Allah berkat pembaptisan. Karunia ini mengingatkan manusia beriman bahwa hidupnya telah dimurnikan. Karunia pemurnian ini semakin nyata karena Allah telah memberikan berkat melimpah, yakni menjadi garam dan terang dunia. Panggilan menjadi garam dan terang adalah panggilan menuju kepada kekudusan.
Kamu adalah garam dunia. Ini merupakan penegasan bahwa karunia pembaptisan menjadikan setiap orang memiliki nilai. Nilai itu mesti diperjuangkan dan diusahakan dalam hidup bersama. Mengamalkan iman menjadi konsekuensi orang yang telah dibaptis dan percaya kepada Kristus. Tapi bagaimana bila garam itu telah menjadi tawar? Bagaimana bila nilai dalam diri itu memudar? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Maka, mengusahakan hidup yang bermakna bagi sesama harus selalu diperjuangkan. Agar hidup kita tidak dibuang dan diinjak orang. Kualitas iman percaya kita mesti ditingkatkan. Hidup amal bakti kita harus memberi rasa dalam kebersamaan agar segala sesuatu menjadi berharga.
Kamu adalah terang dunia. Yesus mengatakan pula kepada para pengikut-Nya bahwa kamulah terang dunia. Terang harus memancarkan sinarnya dalam kegelapan. Ia harus berada di atas segala sesuatu supaya menerangi semuanya. Terang yang bercahaya memberikan sinar kehidupan yang tak mungkin dipendam oleh apapun juga. Terang adalah tanda Allah menyertai dan mengasihani. Seperti ungkapan pemazmur: “Siapakah yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita? Biarlah cahaya-Mu menyinari kami ya Tuhan!”. Setiap pengikut Kristus perlu membawa terang itu kepada setiap orang yang dilingkupi oleh kegelapan. Kegelapan karena dosa. Maka, ia perlu mendapat terang yang bernyala agar kasih Allah semakin dialaminya.
Kamulah garam dan terang dunia. Kepada kita pula dikaruniai hal yang sama. Suatu kesempatan untuk menjadi pemberi rasa dan penerang dalam kehidupan bersama. Bila terang rasa itu telah menjadi tawar dan cahaya itu mulai meredup, perlulah kita kembali kepada Sang Asal segala sesuatu. Terang yang tak pernah padam, kasih yang tak pernah berkesudahan, yakni Yesus sendiri. Kita perlu menimba kekuatan dari padanya, supaya kasih Allah menyinari hidup kita. Agar kualitas garam dan terang dalam diri kita tetap terjaga baik. Sehingga perbuatan kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah di Surga.
(Fr. Filbert O. C. Ngafrehen)
“Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga” (Mat. 5:16).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, semoga dengan kehadiranku semakin banyak orang memuji dan memuliakan-Mu. Amin.











