“Dengar dan Ingatlah!”: Renungan, Jumat 5 Juni 2020

0
1833

Pw S. Bonifasius, UskMrt (M)

2Tim. 3:10-17; Mzm. 119: 157, 160, 161, 165, 166, 168; Mrk. 12:35-37;   atau dr RUybs.

Orang selalu mengatakan bahwa manusia itu susah sekali untuk melupakan. Sebab kehidupan manusia tak pernah jauh dari kata mendengarkan dan mengingat. Sejak kecil, manusia diajar, dilatih agar selalu mendengarkan dengan baik dan dengan keras untuk selalu mengingatnya. Mendengarkan dan mengingat membawa manusia pada pengenalan akan kebenaran sejati.

Bacaan Injil mengisahkan tentang pengajaran Yesus di Bait Allah perihal diri-Nya sebagai Penyelamat dunia. Ia menjelaskan bahwa diri-Nya adalah pemenuhan janji Allah. Sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah dan dinubuatkan oleh tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama, seperti Daud. Para ahli Taurat mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias anak Daud. Sedangkan Daud sendiri dalam Roh Kudus menyatakan bahwa Dia adalah tuannya. Dan bagaimana mungkin Ia anaknya pula. Pernyataan Daud ini sendiri sebenarnya menunjuk pada Yesus Kristus. Ini mau mengatakan bahwa Yesus sebagai manusia berasal dari keturunan Daud. Tetapi keallahan-Nya sudah ada sebelum segala sesuatu terjadi. Ia sudah ada bersama Bapa sebelum segala sesuatu dijadikan. Yesus sendiri lewat pengajaran-Nya menginginkan agar supaya orang-orang mencapai pemahaman dan pengenalan akan misteri Allah.

Pemahaman dan pengenalan misteri Allah bisa dicapai dengan cara mendengarkan dan mengingat-ingat kembali akan pembacaan Sabda Tuhan. Sambil dalam kehidupan sehari-hari selalu bertindak seturut dengan terang Sabda dalam Kitab Suci. Timotius sendiri mengingatkan kita akan Kitab Suci sebagai sumber iman dan sebagai pengenalan yang benar tentang Allah. Karena Kitab Suci dapat memberi hikmat. Dan menuntun kepada keselamatan dengan beriman akan Yesus Kristus. Sebab segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian menghantarkan hidup kita kepada kehidupan yang benar.

Pengenalan yang benar tentang Allah sendiri menjadi keharusan kita sebagai umat beriman yang percaya kepadaNya. Sebab Dialah iman kita. Maka sebagai umat beriman marilah kita menempatkan diri sebagaimana dalam Kitab Suci, sebagai “orang banyak yang mendengarkan Dia dengan penuh minat”. Roh Kudus selalu mengarahkan kita.

(Fr. William Jansen)

“Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat” (Mrk. 12:37b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, terangilah budi dan hati kami untuk selalu mendengarkan dan mengingat Sabda-Mu dalam kehidupan kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini