Pw St. Karolus Lwanga dkk. Mrt (M)
2 Tim. 1:1-3,6-12; Mzm. 123:12a,2bcd; Mrk. 12:18-27
Perbuatan manusia yang baik dan benar terkadang membuatnya dibenci dan ditentang oleh banyak orang. Manusia membutuhkan kesabaran, kelembutan dan kerendahan hati untuk menghadapi situasi ini. Tantangan semacam ini akan terus menguji kebaikan dan kebenaran yang sementara kita hidupi. Pertanyaannya, apakah kita mampu untuk mempertahankan cara hidup yang baik dan benar, ketika banyak orang menantang dan membenci itu?
Saudara terkasih, St. Karolus Lwanga dan rekan-rekannya menghidupi kebenaran dan keluhuran ajaran Yesus. Di Uganda, Afrika. Karolus menghadapi raja Muanga yang bejat. Ia berusaha untuk memberikan pengajaran iman bagi orang Kristen di sana. Raja Muanga yang membenci orang Kristen berusaha untuk membunuh orang Kristen dan misionaris-misionarisnya. Namun, St. Karolus tetap mewartakan ajaran Kristen meskipun pada akhirnya dia mati. Mereka yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebahagiaan di surga bagi mereka. Untuk menguatkan orang-orang Kristen, Rasul Paulus berkata: “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu: karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa untuk memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga hari Tuhan”.
Saudara terkasih, semuanya telah dilakukan oleh Sang Guru Agung, Yesus Kristus Juru Selamat kita. Dalam Injil Yesus berhadapan dengan orang Saduki yang berpendapat bahwa kebangkitan itu tidak ada. Menghadapi persoalan tersebut, Yesus menjawab: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah”. Yesus mengajarkan yang benar bahwa hal demikian tidak akan terjadi, sebab pada akhirnya kita semua akan hidup seperti Malaikat di surga. Ketika menghadapi kematian “jiwa dan raga” kita akan dibangkitkan, dan semua orang disatukan dalam Kerajaan Surga, sebab Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.
Hukum dan ajaran ditetapkan Tuhan untuk kita, dan dalam situasi apapun kita harus mampu mewartakannya. Kita harus bisa menjadi teladan bagi orang lain. Oleh karena Iman tanpa perbuatan adalah mati, maka seperti Yesus, perbuatan kita juga harus dapat menerangi kegelapan di dunia ini.
(Fr. Jefry Fenan)
“Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga hari Tuhan” (2Tim. 1:12)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, lindungilah kami dari pencobaan dan bebaskan lah kami dari yang jahat. Amin.











