“Bukan dari Dunia”: Renungan, Rabu 16 Mei 2018

0
2621

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P).

Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30,3335a,35b-36c; Yoh. 17:11b-19. 

Sebelum kita berada di dunia, sesungguhnya kita berada di suatu tempat di mana hanya ada keamanan, kenyamanan, kedamaian, ketentraman, ketenangan dan kehangatan. Tempat itu adalah rahim seorang ibu. Kemudian ketika pertama kali kita berjumpa dengan dunia, reaksi pertama yang muncul dari dari diri kita adalah tangisan. Begitu pun sebaliknya waktu terakhir kali kita berada di dunia ini. Kita tidak mengalami kesedihan atau tangisan karena meninggalkan dunia, melainkan ketenangan, kenyamanan, dan kedamaian.

Apa yang terjadi di dunia ini, sehingga kita mengawali keberadaan kita di dunia dengan tangisan dan mengakhirinya dengan ketenangan? Mengapa harus ada tangisan dan bukan senyuman ketika pertama kali kita berada di dunia? Dan mengapa harus ketenangan dan bukan tangisan ketika kita meninggalkan dunia?

Dalam Injil hari ini, secara eksplisit doa Yesus untuk kita menunjukkan asal-usul keberadaan kita. “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia”. Hal ini diungkapkan Yesus dalam doa-Nya untuk para murid. Doa yang berisikan hal baik yang diharapkan Yesus. Demikian kita boleh tahu tentang asal-usul serta tujuan hidup dan keberadaan kita.

Kita bukan berasal dari dunia, melainkan diutus ke dunia sama seperti Allah telah mengutus Kristus ke dunia. Kita telah diutus ke dunia. Untuk apa kita diutus ke dunia? Karena kitalah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan umat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Demikianlah nasihat Rasul Paulus kepada para penatua di Efesus sebelum perpisahannya dengan mereka.

Keberadaan kita di dunia bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan ketetapan oleh Roh Kudus untuk menggembalakan umat Allah. Dengan demikian tugas keberadaan kita di dunia adalah menjadi pewarta Kristus bagi keluarga, sahabat, rekan kerja, dan siapa saja yang berada dalam perjalanan hidup kita. Itulah tanggungjawab utama kita sebagai orang yang diutus ke dunia. Profesi kita adalah pekerjaan kita.

Menjadi pelaku pewarta Kristus adalah tujuan utama keberadaan kita di dunia. Maka pantaslah kita sekarang menjadi seorang yang bertanggung jawab atas tugas mulia yang dipercayakan Allah bagi kita. Pantaslah sekarang kita menjadi pewarta bagi siapa saja dalam hidup kita. Karena untuk itulah kita dilahirkan ke dunia.

(Fr. Vanjosh Ohoiledjaan)

“Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yoh.17:16).

Marilah berdoa:

Tuhan, arahkanlah hidupku pada kemuliaan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini