“Optimisme dan Tanggung jawab Iman” : Renungan Kamis, 9 April 2020

0
1861

 Hari Kamis Dalam Pekan Suci (U); Sore: Kamis Putih (P)

Yes. 61:1-3a, 6a, 8b-9; Mzm. 89:21-22, 25, 27; Why. 1:5-8; Luk. 4:16-21.

Setiap orang katolik  pernah melihat dan mengalami perayaan Sakramen Krisma (penguatan). Dalam dan melalui sakramen ini, seorang beriman memperoleh karunia Roh Kudus dengan tanda pengurapan minyak dan penumpangan tangan. Dengan sakramen ini, seorang beriman menerima karunia Roh Kudus untuk menjadi saksi Allah dalam melaksanakan rahmat pembaptisan pada kehidupannya sehari-hari. Sehingga seorang yang telah menerima Sakramen Krisma menjadi anggota penuh dalam Gereja yang bertanggung-jawab menjadi saksi Kristus dalam tindakan dan praktik hidupnya.

Injil hari ini menceritakan tentang pengajaran Yesus di rumah ibadat dalam suatu hari Sabat, ketika Ia datang kembali ke Nazaret tempat Ia dibesarkan. Dalam pengajaran-Nya, Yesus menyatakan bahwa Roh Tuhan ada pada-Nya, dan Roh itulah yang telah mengurapi dan mengutus-Nya untuk pewartaan kabar baik. Lewat pengurapan yang diterima-Nya, Yesus serentak menerima misi pengutusan menjadi saksi Allah, Bapa-Nya. Ialah Kristus (yang terurapi) untuk mewartakan kabar baik yakni memberitakan pembebasan atas perbudakan dosa dan memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.

            Pewartaan Kristus menjadi tugas yang diemban pula oleh para pengikut-Nya hingga kini. Secara khusus, tugas itu diserahkan kepada para imam melalui pengurapan dalam sakramen imamat yang mereka terima. Kristus sendirilah yang karena kasih-Nya membuat imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya dengan Dia sendiri sebagai Imam Agung. Sehingga para imam akan disebut imam Tuhan dan dinamai pelayan Allah. Namun demikian, secara umum umat beriman  mengemban tugas perutusan dari Kristus. Lewat Sakramen Krisma yang telah diterima, umat beriman memperoleh karunia Roh Tuhan. Sehingga dituntut untuk menjadi saksi Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan bahwa Roh Tuhan ada pada setiap umat beriman memberikan dua sikap yang mestinya diambil dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, kenyataan ini hendaknya membangkitkan optimisme. Dengan tampil percaya diri dalam keseharian yang dijalani. Di sini bukan berarti bersikap angkuh dan meremehkan orang lain, tapi menunjukkan sikap wajar sebagai orang beriman. Kedua, kenyataan bahwa Roh Tuhan ada pada setiap orang beriman menuntut pula tanggung jawab. Tindakan sehari-hari mestinya mencerminkan praktik sebagai pengikut Kristus. Sehingga kelak bisa bersekutu bersama-Nya dalam kemuliaan kekal di surga.

(Fr. Frans Labia)

“Roh Tuhan ada pada-Ku…” (Luk. 4:18)

Marilah Berdoa:

Kristus, bantulah aku untuk menjadi saksi-Mu dalam tindakan dan praktik hidupku sehari-hari. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini