“Paulus Kecil”: Renungan, Selasa 15 Mei 2018

0
2744

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P).

Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a.

Menjadi seorang utusan adalah suatu tugas yang mulia. Saat kita menerima tugas karena kepercayaan dari orang lain untuk melakukan sesuatu, kita merasa bangga. Namun ada satu hal penting yang perlu diingat dan dilakukan saat menjadi utusan yakni soal tanggung jawab dan kesetiaan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini berbicara tentang satu tema pokok yakni sikap yang benar dalam menjadi seorang utusan Allah. Dalam bacaan pertama, Paulus menyatakan kepada jemaat dan para penatua bahwa ia sedang dan masih mewartakan Injil Kristus bagi semua orang, terutama bagi orang-orang kafir. Dalam tugas mulia itu, ia berhadapan dengan banyak tantangan, penganiayaan dan penderitaan.

Namun karena kuasa Roh dan mengingat tanggung jawabnya kepada Kristus yang mengutusnya, maka ia tetap setia dan tanpa lalai sedikitpun dalam mewartakan Kristus kepada semua orang. Dalam bacaan Injil, Yesus berdoa dan mengucap syukur kepada Bapa karena telah mengutus-Nya sebagai pemersatu semua orang agar mereka mengenal dan memuliakan Allah yang benar dan kudus.

Sebagai murid-murid Kristus, kita pun menerima perintah dari Kristus sebagaimana yang Ia perintahkan kepada Paulus, yakni menjadi utusan Allah. Kita patut untuk bergembira atas kepercayaan dari Allah yang mau menjadikan kita utusan dan teman kerja-Nya di dunia. Namun serentak kita pun perlu sadar bahwa dalam tugas perutusan yang mulia ini kita akan berjumpa dengan banyak tantangan dan penderitaan. Kita yakin bahwa Roh Kudus akan selalu membantu dan memampukan kita untuk tidak lalai, tetap setia melaksanakan tanggung jawab yang Yesus berikan pada kita.

Kita telah hidup dalam situasi zaman yang berbeda dari St. Paulus. Kita tak mungkin pergi mencari orang-orang kafir dan memberitakan Injil bagi mereka. Lantas, apa yang perlu kita lakukan sebagai utusan Allah dalam zaman now ini? Kita tak bisa menjadi sama persis seperti Paulus, namun kita dapat menjadi “Paulus kecil”.

Kita menjadi utusan Allah, mewartakan Injil Kristus dengan kata-kata dan pikiran yang baik, tidak lalai dalam tugas-tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari dalam status kita masing-masing; dan terutama mewartakan Kristus lewat cara hidup kita yang baik dan benar, agar setiap orang yang melihat perbuatan kita dapat mengenal Kristus dan memuliakan Allah Bapa di Surga.

(Fr. Beni Titirloloby)

“Aku telah menyatakan nama-Mu bagi semua orang yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia ini” (Yoh. 17:6a).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, utuslah aku untuk menjadi pewarta Injil-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini