Hari Biasa (H) Pekan III Prapaskah.
Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4, 18-19,2021 lab; Luk. 18:9-14.
“Aku berkata kepadamu: orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Saudara yang terkasih, bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang orang Farisi dengan penmungut cukai. Kedua orang ini datang ke Bait Allah untuk berdoa. Mereka ingin supaya Tuhan menerima doa-doa mereka. Orang Farisi itu berdoa: “Ya Allah aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segalah pengasilanku.”
Akan tetapi doa pemungut cukai berbeda dengan orang Farisi. Dalam doanya sambil memukul diri dia berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Dari doa orang Farisi dan pemungut cukai kita dapat melihat dua hal yang mau ditampilkan oleh Yesus lewat permpamaan-Nya.
Orang Farisi dan dan pemungut cukai adalah contoh khas dari orang berdosa dan orang saleh. Orang Farisi berdoa langsung mengucapkan syukur dan berterima kasih atas kesalehan, kebaikan hidup rohaninya, ia tidak menyadari sikap sombong dalam doanya, ia menipu dirinya sendiri, dan tidak memandang diri sebagai hamba Allah, melainkan sebagai seorang yang layak mendapat karunia Allah untuk pekerjaan yang telah dilakukannya dengan baik, dan menghina pemungut cukai dalam doanya.
Sedangkan pemungut cukai menyadari betul kedosaannya sehingga ia tidak layak diperhatikan. Doa yang ia sampaikan merupakan salah satu sumber doa dari Yesus yang kuno: Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, kasihanilah kami orang berdosa ini. Doa ini menunjukkan sikap tak berdaya, sikap penyerahan diri dan ketergantungan yang terbuka kepada kasih karunia Allah.
Doa yang disampaikan oleh pemungut cukai ini yang diinginkan oleh Yesus, yaitu pengenalan akan dosa. Sebab tidak ada seorang pun yang layak di hadapan Tuhan tanpa mengenal dosanya dan mau mengakui dosanya di hadapan Tuhan.
Yesus pun menegaskan bahwa pemungut cukai pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang Farisi tidak. Sebab orang Farisi datang kepada Yesus dengan pembenaran diri, sedangkan pemungut cukai itu datang ke hadapan Tuhan dengan pembenaran dari Tuhan.
Maka jelaslah kita melihat siapakah yang mendapat kehormatan tertinggi dari Allah. Seperti yang dikatakan oleh Yesus: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Karena kehormatan yang tertinggi ialah merendahkan diri di hadapan Tuhan dan sesama.
(Fr. Damianus Batlayeri)
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia kan ditinggikan” (Luk. 18:14).
Marilah Berdoa:
Ya Allah, semoga kami mampu merendahkan diri dan menyadari dosa kami di hadapan-Mu. Amin











