“Cinta Kasih?”: Renungan, Jumat 20 Maret 2019

0
2043

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34

Saudara terkasih, seorang filsuf Prancis, Gabriel Marcel pernah berkata: “Cinta memanggil manusia untuk mencintai orang lain dan cinta itu berasal dari hakekat terdalam diri manusia.” Cinta masuk kedalam diri manusia seperti sebuah panggilan. Mencintai mengandung makna kesinambungan bahwa mencintai adalah suatu proses yang terus berlangsung dan tak pernah akan berhenti. Saya mencintai kamu berarti saya mencintai kamu sepanjang waktu dan di sepanjang waktu itu pulalah saya tidak akan pernah berhenti mencintaimu.

Cinta atau cinta kasih merupakan sutu realitas yang tidak dapat dinegasikan dari kehidupan mansuia. Oleh cinta kasih seorang laki-laki dan seorang perempuan maka hadirlah sosok manusia baru. Bahkan lebih jauh lagi, oleh karena cinta kasih manusia dapat hadir di dalam dunia.

Injil hari ini juga menunjukkan bahwa hukum yang terutama dan paling utama adalah hukum Cinta Kasih. Yesus yang hadir dengan otoritasnya bersabda: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk. 12:30-31).

Yesus menekankan tindakan mengasihi sebagai yang hukum paling utama. Mengapa demikian? Hal ini mau menunjukkan dan menegaskan bahwa Allah itu adalah kasih. Allah menciptakan dunia dan segala isinya dengan kasih-Nya yang melimpah. Dunia ciptaan dan manusia adalah luapan kasih Allah. Kasih Allah ini berpuncak pada peristiwa inkarnasi, dimana Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Putra-Nya. Karena kasih-Nya yang begitu besar akan dunia ini maka Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.

Nabi Hosea mengambarkan pula bagaimana oleh karena kasih Allah, bangsa Israel diselamatkan sekalipun mereka tidak setia. “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan dan Aku akan seperti embun bagi Israel supaya mereka dapat berbunga” (bdk. Hos. 14: 5-6). Janji yang disampaikan Allah kepada bangsa Israel memperlihatkan betapa kasih-Nya tidak pernah berkesudahan agar jaminan keselamatan yang Ia berikan bagi umat mansia tetap terlaksanakan.

Ketika cinta kasih telah dinyatakan dalam kehidupan umat manusia, maka sudah wajarlah hukum cinta kasih tersebut menjadi fondasi dasar dari kehidupan manusia. Sama seperti Allah yang mencipta dan bertindak dengan cinta kasih, maka segala tindakan dan perbuatan manusia haruslah berakar dari cinta kasih. Kualitas keberimanan kita sebagai pengikut Kristus dinilai sejauh mana sikap hidup kita mengekspresikan kasih terhadap Allah dan sesama.

(Fr. Theofilus Pontoh)

“Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah” (Mrk. 12:34).

Marilah berdoa:

Ya Allah , buatlah kami mampu untuk mengenal kasih-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini