“Pengampunan Yang Sejati”: Renungan, Selasa 17 Maret 2020

0
8271

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).

Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,67bc,8-9; Mat. 18:21-35. 

Berbicara mengenai mengampuni sesama, tentunya kita memiliki pengalaman masing-masing. Mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah suatu perkara yang mudah kita laksanakan. Apalagi jika orang tersebut benar-benar mencederai atau melukai hati kita. Kita pasti merasa kesulitan untuk mengampuni orang tersebut.

Kenyataan ini tidak dapat disangkal dalam realitas hidup keseharian kita. Sebab hal itu sangatlah bersifat manusiawi. Tak jarang kita mengampuni seseorang hanya sebatas pada ungkapan saja. Namun hati kita belum sepenuhnya mengampuni. Hal demikian dapat terjadi karena hati kita masih meninggalkan bekas luka yang belum tersembuhkan sepenuhnya.

Petrus dalam Injil bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Maka jawab Yesus kepadanya: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Jawaban ini tentunya membuat Petrus terkejut. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali terhadap salah seorang yang terus menyakiti hatinya?

Jawaban Yesus ini sebenarnya mau menunjukkan betapa pentingnya sikap mengampuni dari manusia untuk dirinya sendiri dan orang lain. Memang hal tersebut sulit untuk kita laksanakan, apalagi jika orang yang sama terus melakukan perbuatan yang tidak mengenakkan hati kita. Namun kita perlu menyadari bahwa  pengampunan yang terus kita berikan kepada orang lain membuat Allah juga akan mengampuni segala kesalahan dan dosa kita. Sebaliknya, pengampunan yang tidak kita berikan kepada orang lain, membuat Allah juga tidak mengampuni kesalahan dan dosa kita.

Seringkali seseorang yang terus mengampuni dapat “dicap” sebagai orang yang bodoh oleh orang lain. Tentu orang lain dapat berkata: orang yang bersalah itu harus diadili!, dihukum!, dilawan!, dsb. Secara manusiawi kita dapat berkata demikian, namun karena kuasa Allah tinggal dan diam di dalam diri kita, maka kita dapat mengatakan: aku akan terus mengampunimu! Karena inilah yang dikehendaki oleh Allah. Maka, sebagai pengikut Kristus yang setia, berusahalah untuk bisa mengampuni sesama.

(Fr. Yehizkiel R. Lampeuro)

“Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat. 18: 35).

Marilah Berdoa:

Ya Allah, mampukanlah kami untuk dapat mengampuni seperti yang Engkau kehendaki, agar orang dapat mengetahui bahwa hal itu terjadi karena daya dan kuasa-Mu yang terus tinggal di dalam diri kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini