“Satu dalam Tuhan”: Renungan, Minggu 13 Mei 2018

0
3891

HARI MINGGU PASKAH VII (P).

Kis. 1:15-17,20a,20c-26; Mzm. 103:1-2,11-12,19-20ab; 1Yoh. 4:11-16; Yoh. 17:11b-19.   

Pengalaman sering menunjukkan bahwa untuk bersatu dan menyatu bukanlah hal yang mudah. Sikap demikian mengandaikan bahwa semua pihak ikut terlibat di dalamnya. Bersatu bukanlah suatu penyeragaman tetapi menjadi bentuk kebersamaan di dalam keberagaman tersebut.

Bacaan Injil hari ini mengantar kita untuk masuk dan mempersiapkan diri pada pesta Pentekosta nanti. Santo Yohanes mengisahkan doa Yesus bagi para murid pada perjamuan terakhir (Yoh 17:11b-19). Yesus berdoa dan meminta agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya agar mereka menjadi satu seperti Dia dengan Bapa yang adalah satu.

Doa Yesus ini mengungkapkan keprihatinan Sang Gembala kepada para murid-Nya agar mereka tidak ada yang hilang ataupun binasa. Doa Yesus ini adalah wujud dari cinta-Nya kepada para murid. Doa ini membuat para murid merasa bahwa mereka senantiasa dilindungi dan dijaga dalam tugas perutusannya. Yesus tidak berdoa agar para murid tidak mengalami masalah-masalah. Tetapi Dia berdoa agar mereka juga bersatu dalam doa dan saling menguatkan.

Bacaan pertama menampilkan Matias yang dipilih mengantikanYudas. Ia kemudian dimasukan dalam bilangan para Rasul. Ikatan kesatuan antara Matias dan para rasul itu adalah sebuah ikatan kasih, karena mereka telah mengenal dan percaya pada Kasih Allah yang mempersatukan mereka (bdk. I Yoh 1:16).

Menjadi sesuatu yang istimewa bagi kita sebagai murid Kristus, bahwa Yesus menjadikan kita sebagai prioritas utama dalam doa-Nya. Dalam kehidupan ini terkadang karena ego masing-masing maka pendapat dengan mudah dikesampingkan. Kesulitan ataupun konflik sering menjadikan kita kurang bersatu. Peran kita sebagai murid Kristus adalah bagaimana kita mendalami doa Yesus ini.

Kehidupan zaman sekarang banyak menarik kita untuk hidup dalam kesenangan pribadi atau menjadi orang yang acuh tak acuh. Dan konsekuensinya kita masuk dalam kuasa dunia ini. Panggilan untuk bersatu adalah panggilan untuk pengudusan dalam kebenaran. Dalam hidup ini, kita dipanggil untuk menyatukan atau membawa orang lain masuk dalam terang Kristus.

Tinggalkan sikap memecah dan mencela di antara kita. Kita mohon agar terang Roh Kudus selalu menyinari hati dan pikiran kita sehingga sebagai anggota Gereja kita senantiasa bersatu menjadi satu sebagaimana Yesus dan Bapa adalah satu.

(Fr. Juan Dotulong)

“Supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11b).

 Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga kami semakin bersatu untuk senantiasa memuliakan nama-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini