“Bertobat” : Renungan, Sabtu 29 Februari 2020

0
2052

Hari Sabtu sesudah Rabu Abu (U)  

Yes. 58:9b-14; Mzm. 86:12,3-4,5-6; Luk. 5:27-32

Rumah sakit dan puskesmas merupakan tempat di mana orang yang sakit dan menderita luka secara fisik dan juga psikis diobati dan di rawat agar mendapat kesembuhan sehingga lekas pulih dari sakit penyakit yang diderita.

Dalam kehidupan kerap kali kita menemukan orang-orang yang menolak untuk berobat di rumah sakit. Hal ini disebabkan oleh karena orang merasa bahwa dirinya sehat dan bak-baik saja. Namun ketika penyakit itu menggerogotinya, barulah disadari bahwa penyakit yang dideritanya telah parah dan peluang untuk sembuh sangatlah sedikit bahkan tidak ada.

Sama halnya dengan keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan kepada manusia, Tuhan menginginkan agar semua umat-Nya selamat. Namun terkadang kesadaran dari manusia itu sendiri terlambat datang, sehingga manusia pada akhirnya mengalami penyesalan.

Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya berkata: “Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari”. Artinya sikap dan tingkah laku kita yang sopan kepada orang akan menjadi modal bagi kita untuk memperoleh keselamatan yang datang dari Allah kita.

Karena Allah menghendaki agar umat-Nya selalu hidup baik dan tanpa cela di hadapan-Nya.  Maka pertolongan yang akan Tuhan berikan dapat kita terima di dalam kehidupan kita. sama seperti Daud yang meminta pertolongan kepada Allah. Pertolongan itu akan diterima apabila Allah menjadi dasar dari kehidupan kita. Pertolongan itu sendiri merupakan keselamatan yang Allah berikan kepada manusia.

Bertolak dari dari semua itu maka, keselamatan yang diberikan Tuhan itu terlihat dengan jelas dan nyata dalam diri Yesus Kristus. Meskipun yang dilakukan Yesus adalah baik namun di sisi lain selalu jelek atau tidak baik di mata orang-orang tertentu yakni kaum Farisi dan ahli Taurat. Hal ini disebabkan karena mereka tidak mengerti dan memahami dengan jelas tujuan dan maksud dari perbuatan Yesus sendiri.

Ketika melihat Yesus makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa, maka muncullah pemahaman yang tidak baik yang membuat seakan-akan apa yang dibuat Yesus itu tidak layak. Jadi mudah bagi kita untuk melihat kesalahan orang lain, tanpa menyadari diri kita sendiri, yang bahkan lebih berdosa dan banyak kesalahan daripada orang yang kita hakimi.

Oleh karena itu Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”. Jadi kedatangan Tuhan ke dunia bermaksud untuk menyelamatkan kita semua yang berdosa. Dengan demikian keselamatan yang dijanjikan akan kita peroleh.

(Fr. Budi Rahae)

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:31-32).

Marilah berdoa:

Tuhan, ubahlah hidup kami agar semakin lebih baik, dengan mengutamakan Engkau sebagai penyelamat kami satu-satunya. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini