“Puasa, Kerendahan Diri”: Renungan, Jumat 28 Februari 2020

0
2025

Hari Jumat Sesudah Rabu Abu (U)

Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3, 4, 5-6a, 18-19; Mat. 9:14-15

Beberapa hari yang lalu kita baru ditandai dengan penerimaan abu di dahi atau di kepala, yang menandakan dan mengingatkan bahwa sebagai manusia kita hanya berasal dari debu yang diciptakan Allah. Kita menjadi segambar dan serupa dengan Dia. Setelah menerima tanda yang menyimbolkan kerapuhan, kita diminta untuk terus menghayati iman kita akan Yesus Kristus yang mau menderita demi kita semua. Untuk itu salah satu cara untuk menghayatinya adalah hidup berpantang dan berpuasa. Lalu sebenarnya apa hakikat dari puasa itu ?

 Bacaan-bacaan hari ini memberi jawaban atas pertanyaan itu. Pertama kita berpuasa bukan semata-mata karena takut akan hukum atau hanya karena kewajiban semata. Hal ini sebagai mana digambarkan dalam bacaan Injil di mana ketika murid Yohanes menanyakan kepada Yesus mengenai para murid Yesus yang tidak puasa, sedangkan mereka dan orang Farisi berpuasa. Dari pertanyaan ini mau digambarkan bahwa puasa hanya semata-mata karena kewajiban semata. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus yang hadir di tengah-tengah mereka mengharapkan  puasa yang bukan demikian. 

 Kedua, dalam kehidupan sosial, kita berpuasa agar supaya kita dapat bersolider dengan orang lain yang miskin. Dengan kita berpuasa kita turut merasakan apa yang dirasakan orang yang mungkin saja hanya makan sekali sehari. Bahkan mereka yang telanjang serta tidak memiliki tempat tinggal. Kita juga merasakan itu semua, dalam hati kita semakin tumbuh keinginan dan perbuatan-perbuatan kasih untuk membantu mereka sebagaimana yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.

Ketiga, ini merupakan inti dari puasa yang kita lakukan. Sebab dengan berpantang dan berpuasa, kita membuka harapan hidup kepada Allah. Kita mengakui bahwa kita adalah ciptaan yang rendah di hadapan Allah. Bukan hanya itu saja, kita pun diharapkan untuk menyesali segala dosa kita seraya berseruh kasihanilah aku, ya Allah menurut kasih setia-Mu. Sebab penyesalan seperti inilah yang diharapkan Allah.  Karena merasa tidak layak dan menyerahkan hidup kita kepada kehendak Allah itulah yang paling berkenan.

(Fr. Efrianus Kaka Embu) 

“Kasihanilah aku, ya Allah, munurut kasih setia-Mu”. (Mzm.51:3)

Marilah berdoa:

Ya Allah, aku telah berdosa terhadap Engkau dan sesamaku, ampunilah aku ya, Allahku.  Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini