Hari Minggu Biasa VII (H)
Im. 19:1-2,17-18; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13; 1 Kor. 3:16-23; Mat. 5:38-48
Manusia adalah makhluk otonom atau mandiri. Sifat otonom dari manusia ini sering disalahartikan. Sifat ini seharusnya membantu relasi antar manusia, saling memperkaya satu sama lain, dan membuka peluang untuk mengembangkan pribadi mereka. Tetapi pengertian yang salah akan sifat ini terkadang menjadi sumber ‘permusuhan’.
Yesus lewat bacaan-bacaan hari ini menegaskan untuk menjauhkan diri kita dari permusuhan. Dalam kitab Imamat, hal demikian dikatakan, “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,…” (Im. 19:17-18).
Permusuhan akan mendatangkan dosa ke dalam diri manusia. Mereka yang menyimpan dendam akan membawa dosa pada diri mereka. Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah cara yang benar. Dan cara ini telah ditunjukkan oleh Allah sendiri. Pemazmur berkata, “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,… Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia…”.
Hal itu pun ditegaskan dalam bacaan Injil. Dikatakan dalam bacaan Injil: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu”.
Kita sebagai orang beriman hendaknya mencerminkan sikap demikian. Sikap untuk mengampuni sesama dan mengasihi mereka adalah cara yang telah ditunjukkan oleh Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa diri kita ini adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam diri kita. Sehingga sepantasnya kita mencerminkan sikap dan sifat Pencipta kita. Tetapi jika kita cenderung bermusuhan dan tidak bisa mengampuni, apakah Roh Allah tinggal dalam diri kita? Apakah kita pantas menjadi bait Allah?
(Redaksi Lentera Jiwa)
“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44)
Marilah berdoa:
Ya Allah, ajarlah kami untuk mengampuni sesama yang bersalah kepada kami. Amin.











