Hari Biasa ( H )
Yak. 1:12-18; Mzm. 94: 12-13a, 14-15,18-19; Mrk. 8:14-21
Ragi adalah salah satu unsur yang penting dalam membuat roti. Dengan menggunakan ragi, roti yang kita olah menjadi lebih baik, teksturnya menjadi lembut. Dengan begitu, banyak orang tertarik untuk mencicipi roti itu. Singkat kata, ragi adalah salah satu bahan yang berguna dalam proses mengolah tepung menjadi roti.
Pada bacaan Injil, kita dengar bahwa Yesus seolah-olah marah dengan penggunaan ragi itu. Yesus sendiri berkata kepada para murid-Nya untuk hati-hati terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Para murid yang mendengarkan hal itu, mengira Yesus memarahi mereka karena tidak membawa roti. Yesus yang mengetahui hal itu, kemudian memberikan beberapa pertanyaan kepada para murid yang memahami ragi secara harafiah itu.
Pertanyaan-pertanyaan Yesus dimaksudkan sebagai upaya untuk menuntun para murid agar dapat keluar dari kebingungan dan ketidaktahuan mereka. Lalu apa maksud dan arti dari perkataan Yesus? Perkataan Yesus mengenai ragi orang Farisi dan ragi Herodes diartikan sebagai cara pandang orang Farisi dan Herodes terhadap sosok pribadi Yesus. Bagi orang Farisi dan Herodes, Yesus dipandang sebagai sosok pembuat mukjizat yang terkenal di kalangan masyarakat. Seorang yang dapat menghacurkan kewibawaan dari kaum Farisi sebagai pemimpin agama. Serentak Herodes sebagai pemegang kekuasaan politik dan pemimpin masyarakat.
Yesus ingin membuka cara pandang para murid. Mereka percaya kepada Yesus, namun kepercayaan mereka tidak mendalam. Mereka masih ragu dengan pribadi Yesus yang luar biasa itu. Yesus hendak mengarahkan cara pandang para murid ke arah yang lebih baik. Yesus hendak membantu para murid untuk percaya dengan segenap hati dan jiwa mereka, sehingga tidak seperti apa yang dipikirkan oleh orang Farisi dan Herodes terhadap Yesus. Para murid diajak oleh Yesus untuk memiliki pandangan surgawi. Yesus adalah Putera Allah. Dialah yang diutus untuk menyelamatkan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seringkali terjebak dalam cara pandang yang keliru terhadap Yesus. Seperti orang-orang Farisi dan Herodes, kita nyatanya belum secara total percaya dan mengimani Kristus sebagai Tuhan kita. Pada akhirnya iman akan Yesus itu pudar. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu mendalami iman kepercayaan kita dengan baik. Hal praktisnya, membaca Kitab Suci, mendekatkan diri dengan Tuhan melalui doa-doa kita, membangun relasi yang baik dengan orang-orang di sekitar kita. Sudah sejauh mana kita mengenal pribadi Yesus?
(Fr. Stanislaus Sainyakit)
“Masihkah kamu belum mengerti?” (Mrk. 8:21)
Marilah berdoa:
Ya Allah, bimbinglah aku supaya lebih mengenal Kristus Putera-Mu. Amin











