Hari Biasa ( H )
Yak. 1:1-11 ; Mzm. 119:67, 68, 71, 73, 75, 76 ; Mrk. 8:11-13
Pada zaman sekarang, seiring berkembangnya IPTEK, segala sesuatu harus dibuktikan keilmiahannya. Butuh bukti. Kenyataan seperti ini dapat kita jumpai pula dalam Injil hari ini. Orang Farisi mencobai Yesus dengan meminta tanda dari surga, agar dapat membuktikan bahwa apa yang diajarkan dan diperbuat oleh Yesus merupakan suatu kebenaran. Yesus merasa heran dan pergi meninggalkan mereka. Ia tidak melakukan suatu tanda pun.
Apa maksud tindakan Yesus ini? Yesus memilih pergi meninggalkan mereka yang meminta tanda. Ia melihat bahwa pertanyaan orang-orang Farisi mengandung unsur kesombongan. Mereka bertanya hanya untuk mencobai Dia. Sekalipun tanda surgawi sehebat apa pun mereka juga takkan percaya, karena sikap tinggi hati yang menyelimuti mereka. Jika kita mengamati dari semua mukjizat atau tanda-tanda surgawi yang diperbuat oleh Yesus, mereka yang rendah hati dan penuh imanlah yang percaya dan menerimanya. Ia jarang sekali mengerjakan mukjizat kepada orang yang tinggi hatinya.
Sikap Yesus ini ditegaskan lagi oleh Yakobus dalam suratnya kepada kedua belas suku di perantauan. Yakobus meminta agar mereka dengan rendah hati dan penuh iman meminta hikmat dari Tuhan. Hendaknya mereka jangan menjadi tinggi hatinya di hadapan Tuhan, karena orang yang demikian, tidak akan mendapat apa yang dimintanya. Mereka yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Dalam kenyataan hidup, kita sering berdoa untuk meminta berkat dan campur tangan Tuhan. Terkadang jika doa kita tidak terkabulkan, maka kita sering meminta dengan paksa agar Tuhan sudi mengabulkannya. Sadarkah kita bahwa, doa seperti itu telah memaksakan kehendak Allah? Kita berdoa tetapi tidak mengimani apa yang kita doakan. Kita berdoa dengan motivasi memperoleh tanda dari surga. Motivasi seperti ini terkadang membawa kita pada sikap tinggi hati.
Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk semakin rendah hati dalam berdoa. Berdoa karena kita adalah anak-anak Allah. Berdoa dengan benar, dan tidak mendasarkan doa kita atas berbagai kemauan yang muluk-muluk. Sebagai orang beriman, hendaklah kita mengimani apa yang kita doakan. Percayalah! Bapamu yang di surga tahu apa yang engkau perlukan. Doa orang benar yang disampaikan dengan rendah hati didengar oleh Tuhan.
( Fr. Alowisius Sormudi )
“Mengapa angkatan ini meminta tanda?” ( Mrk. 8:12 )
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berilah aku kerendahan hati untuk mengimani segala karya-Mu dalam hidupku. Amin.











