“Ketakutan dan Dendam”: Renungan, Jumat 7 Februari 2020

0
3845

Hari biasa (H).

Sir. 47:2-11;Mzm 18:31,47,50,51; Mrk. 6:14-29

Hanya orang yang berjiwa besar yang bisa menerima keterbatasannya dan mengakui dengan tulus bahwa sehebat apa pun kita, masih ada orang yang jauh lebih hebat daripada kita. Tidak menjadi jaminan bahwa pendidikan tinggi membuat kita berjiwa besar, demikian juga status sosial yang terhormat.

Dalam bacaan pertama, Putra Sirakh  menampilkan nubuat Nabi Natan tentang Raja Daud. Bagaimana  seorang Raja Daud sangat dihormati dan dinaungi oleh Roh Allah. Nabi Natan sendiri memberikan pujian kepada Raja Daud. Sebab berserulah ia kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, sehingga Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya.

Bacaan Injil menceritakan pula bagaimana seorang abdi Allah yang meninggal dengan cara yang sangat tragis. Yohanes Pembaptis sudah dibunuh. Namun, Raja Herodes masih dirundung ketakutan kala ada orang yang berkuasa mirip seperti Yohanes. Bahkan berita tentang karya Yesus pun dianggap sebagai kebangkitan Yohanes Pembaptis.

Itulah bukti nyata betapa ngerinya ketika seseorang masih dikuasai oleh sakit hati dan dendam dalam hati. Ia akan tetap curiga dan penuh ketakutan dalam hidupnya, bahkan sekalipun musuhnya sudah mati. Artinya Herodes masih mengalami kecemasan karena Yohanes. Status raja pun rentan dengan ketakutan.

Sebab Herodes sendiri merasa tersinggung karena pernah ditegur oleh Yohanes: Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu. Karena itu Herodes menyimpan dendam terhadap Yohanes. Herodes, Herodias dan putrinya melihat hidup sesama sebagai permainan. Karena itu, tarian hiburan menjadi tarian maut. Kepala Yohanes Pembaptis menjadi tumbal kebenaran, wujud bayang-bayang salib Sang Juruselamat.

Kita pun terkadang hidup seperti Herodes yang selalu dirundung oleh ketakutan dan dendam yang berlebihan dan selalu berpikir negatif terhadap orang lain.  Kita takut dan tidak mau menerima jika ada orang yang lebih besar dan hebat daripada kita, sehingga kehadiran mereka menjadi ancaman bagi kita.

Maka, lewat bacaan hari ini kita semua diajak untuk hidup seperti yang telah ditunjukkan oleh Nabi Natan yang terbuka terhadap orang lain. Tapi kita juga mesti memiliki semangat seperti Yohanes Pembaptis yang berani menegur Herodes. Kita pun berani untuk menegur sesama jika jalan yang mereka lalui itu salah.

  (Fr. Kostantinus Tunyanan)

Janji Tuhan adalah murni, Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm. 18:31).

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah hati yang berani untuk melawan ketakutan dalam hidup. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini