“Hidup Dalam Panggilan Tuhan”: Renungan, Rabu 5 Februari 2020

0
3682

Pw Sta. Agata, Perawan dan Martir (M)

2Sam. 24:2,9-17; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 6:1-6

Panggilan hidup menuntut seseorang menyerahkan dirinya dan mengabdikan segala yang ada pada dirinya untuk panggilan itu sendiri. Dengan menjawab panggilan hidup itu setiap orang harus bisa bertahan dan menanggung segala konsekuensi yang akan dialami.

Hari ini, gereja memperingati Sta. Agata sebagai perawan dan martir. Sta. Agata mengajarkan kepada kita semua bahwa menjawab panggilan hidup berarti mempersembahkan hidupnya hanya kepada Tuhan. Dengan menjawab panggilan hidupnya ini Sta. Agata membaktikan dirinya untuk merawat orang sakit dan miskin. Dia dengan penuh kasih memperhatikan setiap orang yang menderita.

Dalam menjalani kehidupannya untuk melayani sesama, dia akhirnya harus rela ditangkap dan dianiaya sampai mati. Dari kehidupan Sta. Agata dapat dilihat konsekuensi yang besar jika menjawab panggilan Tuhan itu. Namun yang terpenting yaitu bagaimana seseorang dapat bertahan dalam situasi seperti itu.

 Dalam bacaan pertama Tuhan ingin setiap orang sadar akan panggilannya. Tuhan mau  setiap orang yang memilih untuk hidup dalam panggilan-Nya tidak takut, cemas, gelisah, dan merasa hina. Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa setiap orang yang mengikuti-Nya dalam ukuran manusia tidak perlu menjadi orang yang bijak, tidak perlu menjadi orang yang berpengaruh, tidak perlu menjadi orang yang terpandang terlebih dahulu. Tuhan menunjukkan bahwa setiap orang bisa menjawab dan mengikuti panggilan-Nya, karena setiap orang di hadapan Tuhan adalah sama yaitu anak-anak-Nya. Siapapun yang ingin mengikuti dan menjawab panggilan Tuhan haruslah berserah diri di hadapan-Nya, tidak takut dan gentar akan konsekuensi yang akan dihadapi.

Dalam bacaan Injil Yesus menegaskan kepada kepada kita semua : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Dari kata-kata ini Yesus ingin menunjukkan bahwa untuk mengikuti-Nya setiap orang harus siap sedia dan rela meninggalkan segala kebahagiaan duniawi. Yesus ingin setiap orang yang mengikuti-Nya harus bisa menerima segala keadaan, konsekuensi, penderitaan, dan menanggung segala permasalahan dalam hidupnya seorang diri. Yesus mau agar kita dengan kesungguhan hati, tidak setengah-setengah dalam mengikuti dan menjawab panggilan-Nya.

Mengikuti Yesus memang tidak mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan dan banyak konsekuensi yang akan dihadapi. Itu sebabnya, kita mesti menjadi pribadi yang siap dan rela mengabdikan segenap jiwa dan raga kita untuk kemuliaan Allah. Pengabdian yang total pasti mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.

(Fr. Adri Montolalu)

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21:19).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami dapat mengabdi sepenuhnya pada panggilan-Mu yang suci. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini