“Menjadi Anak Allah”: Renungan, Jumat 3 Januari 2020

0
2427

Hari Biasa Masa Natal (P)

1Yoh. 2:29 – 3:6; Mzm. 98: 1,3cd-4,5-6; Yoh. 1 :29-34

Menjadi orang yang populer adalah hal yang diimpikan oleh banyak orang. Namun terkadang, popularitas yang mereka miliki justru menjadikan mereka sebagai orang yang sombong. Terkadang, mereka yang berada di puncak karirnya justru menganggap yang lainnya itu rendah. Akibatnya mereka selalu menganggap diri yang paling benar dan orang lain itu salah. Bahkan orang yang seperti itu tidak bisa menerima jika ada orang yang melebihinya. Hal itu yang justru menimbulkan rasa dengki dan iri hati akan keberhasilan orang lain.

Saudara-saudari yang terkasih. Dalam bacaan pertama diceritakan bahwa Allah karena kasih-Nya  kepada kita, mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Menjadi anak Allah, berarti kita mendapat hak istimewa di hadapan-Nya. Dikatakan bahwa kita akan menjadi sama seperti Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Agar harapan itu terwujud, maka kita sebagai anak-anak-Nya harus menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Hal ini mau mengungkapkan kepada kita kerendahan hati Allah, yang mau mengangkat kita sebagai manusia yang berdosa ini untuk menjadi anak-Nya. Allah menjadi contoh kerendahan hati itu.

Dalam Bacaan Injil, yang menjadi contoh manusia yang rendah hati itu adalah Yohanes Pembabtis. Dia adalah salah satu tokoh yang terkenal pada zamannya, bahkan orang menyebutnya Mesias. Namun hal ini tidak menjadikannya tinggi hati. Ia menyangkal itu dengan menunjuk kepada Pribadi Yesus. Kesaksiannya akan Yesus sebagai Anak Allah memperlihatkan dengan jelas sikap rendah hati Yohanes. Dia hanyalah utusan untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Hal itu ia katakan agar mereka tahu bahwa Yesuslah Sang Mesias.

Saudara-saudari sekalian, sikap rendah hati Yesus yang adalah Anak Allah dapat kita lihat dalam pribadi Yohanes. Kehadiran Yohanes hendak mengajarkan kita mengenai kerendahan hati. Popularitas yang ia dapatkan, tidak menjadikannya sebagai orang yang sombong. Kesombongan bisa menutupi pintu hati kita akan masuknya rahmat, dan kerendahan hati adalah jalan agar rahmat dari Yesus Anak Allah masuk dalam hati kita. Rahmat diperoleh ketika kita mau membuang hal-hal buruk dalam hati kita, dan mengisi hati kita dengan cinta kasih Tuhan. Dengan begitu, kita menyucikan hati kita dan kita layak untuk disebut sebagai anak-anak Allah.

(Fr. Reino Sondakh)

“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1: 29:34).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku membentuk diri menjadi pribadi yang rendah hati, agar hatiku selalu terbuka untuk menerima rahmat-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini