“Ecce Ancilla Domini”: Renungan, Jumat 20 Desember 2019

0
2530

Hari Biasa

Khusus Adven (U)

Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 1:26-38

Ketaatan adalah sikap penting dan utama bagi seorang abdi. Bisa dikatakan bahwa seluruh hidupnya hanya dibaktikan bagi kepentingan orang lain yang ia pertuankan. Itu berarti ia tak peduli apakah yang ia jalani untuk kepentingan majikannya itu adalah hal baik atau buruk. Sebab yang ia tahu hanyalah siap sedia bagi kebahagiaan atasannya. Ketaatan semacam ini tidaklah berlaku bagi Bunda Maria sebagai abdi Allah.

Bacaan-bacaan suci hari ini memberikan sebuah narasi yang begitu menakjubkan di mana Bunda Maria dipilih oleh Allah menjadi pembuka karya keselamatan bagi dunia. Perempuan muda yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Imanuel sebagaimana dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, kini menjadi kenyataan yang tak bisa disangsikan lagi oleh dunia.

Maria disapa oleh Malaikat Gabriel sebagai seseorang yang dikaruniai oleh Allah. Konsekuensinya, Maria diangkat derajatnya ke dalam kemuliaan Allah sendiri. Dengan kata lain, karya luar biasa ini menjadikannya sungguh-sungguh mengalami persatuan dengan Allah.

Namun Injil memberikan kesaksian bahwa kendati Maria dipilih dan dimuliakan oleh Allah, dengan sikap rendah hati ia justru menyebut dirinya sebagai seorang abdi Allah yang taat pada rencana dan karya Allah sendiri.

Sikap Maria ini bukanlah sikap ragu-ragu menerima kenyataan tersebut, tetapi justru ia tahu bahwa Allah bekerja dalam hal-hal yang baik dan benar. Penyelenggaraan ilahi terjadi dalam pekerjaan yang baik ini. Untuk itulah ia mau menjadi abdi Allah yang setia. Mendengarkan dan mematuhi perintah Allah adalah sikap mengabdi Maria yang tak ada bandingnya dengan sikap ketaatan abdi-abdi manusia lainnya.

Belajar dari sikap ketaatan Maria ini, kita diajak bukan hanya mengabdi dengan setia pada apapun yang menjadi tugas kita, entah itu baik atau jahat. Tetapi, lebih dari itu kita diajak untuk mengabdi hanya pada tugas dan tanggung jawab yang baik dan benar. Kita tidak diajak untuk mengabdi pada hal-hal yang buruk dan jahat. Sebab dalam hal yang buruk dan jahat itu penyelenggaraan Allah tidaklah terjadi. Lantas, sudahkah kita mengabdi dengan setia pada tugas dan karya yang baik?

(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)

“Ecce ancilla Domini, fiat mihi secundum verbum tuum” (Luk. 1:38)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, ajarlah kami dengan rendah hati mengabdi dengan setia pada tugas dan pekerjaan yang semata-mata Engkau kehendaki. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini