“Jangan Putus Asa”: Renungan, Sabtu 16 November 2019

0
5691

Hari Biasa (H)

Keb. 18:14-16, 19: 6-9; Mzm 105: 2-3, 36-37, 42-43; Luk. 18: 1-8

Letak kebahagiaan setiap orang adalah ketika mereka dapat mewujudkan cita-cita. Konsekuensi supaya boleh berada pada tingkat itu adalah berusaha, berjuang dan berkorban. Akan tetapi kadang ketika mengalami kesulitan dan tantangan tidak sedikit yang menyerah, mengundurkan diri, berhenti dan berputus asa. Sehingga kebahagiaan yang didengungkan sebelumnya menjadi mimpi yang mati. Seseorang yang sukses dan bahagia pasti pernah mengalami kesulitan dan tantangan. Dua hal ini secara absolut akan tetap ada dalam perjuangan setiap mereka yang ingin berhasil. Jadi apakah yang membuat orang-orang menyerah? Tantangan dan kesulitankah? Letak kejatuhan seseorang adalah ketika dia terlalu percaya akan dirinya tanpa melihat Dia yang telah jauh melebihi kekuatan dan impian manusiawi. Dialah Sang Pencipta dan yang mengatur setiap rencana dan hidup manusia.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berpesan supaya kita selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Sama seperti dalam perumpamaan seorang janda yang terus menerus bermohon pada seorang hakim. Sehingga seorang hakim yang tidak benarpun dapat menolong janda itu mengatasi perkaranya. Apalagi Dia yang memiliki berkat dan kebaikan bagi setiap mereka yang selalu bermohon pada-Nya. Tuhan mempunyai rencana-Nya sendiri dalam menjawab permohonan semua orang. Tuhan memberikan apa yang benar-benar manusia butuhkan, bukan apa yang manusia inginkan.

Berdoa tidak jemu-jemu berarti percaya dan meminta Dia supaya tetap menjaga dalam rencana-Nya yang kudus. Sikap ini sekaligus membimbing setiap orang kepada kesabaran dan kesetiaan kepada Sang sumber kebaikan. Namun ketika seseorang tidak percaya, di situlah dia mengalami situasi kehilangan kesabaran dan kesetiaan dan pada akhirnya jatuh dalam kekecewaan kepada Tuhan dan mengandalkan kemampuannya sendiri.

Oleh sebab itu, setiap jawaban dari Tuhan terhadap doa manusia, menuntut supaya orang berusaha dalam sikap dan tindakan. Tuhan mempunyai waktu-Nya untuk mengabulkan setiap permohonan. Setiap kesulitan dan tantangan yang dihadapi, bukanlah sebuah kutukan dari Tuhan, tetapi membuat manusia belajar untuk menjadi kuat dalam hidup, sabar, penuh harap dan selalu mengandalkan-Nya. Tuhan tidak pernah menjamin hidup tidak pernah ada duka dan kesulitan, tetapi Tuhan selalu menjamin kekuatan, rencana yang terbaik dan indah pada waktunya bagi setiap mereka yang setia dan penuh kesabaran.

(Fr. Hanny Ering)

“Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami supaya tetap setia pada rencana-Mu dan tetap merasa kuat dalam mengandalkan dalam doa dan tindakan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini