“Mencari dan Menyelamatkan” : Renungan, Kamis 7 November 2019

0
2021

Hari Biasa (H)

Rm. 14:7-12; Mzm. 27:1.4.13-14; Luk. 15:1-10

Menemukan sesuatu yang telah hilang sekian lama tentu menimbulkan perasaan sukacita dan kegembiraan yang tidak terkira di hati pemiliknya. Sekali pun sesuatu yang hilang itu tak ‘bernilai’ sama sekali, tetap saja membawa sukacita karena sesuatu itu ‘berharga’ bagi pemiliknya.

Injil hari ini memberikan kesaksian bagi kita, bahwa Allah begitu bergembira dan bersukacita bila menemukan anak-Nya yang berdosa kembali kepada-Nya. Manusia memang tidak bisa luput dari dosa. Akibat dosa relasi manusia dengan Allah terpisah jauh. Hal ini membuat manusia enggan mendekati Allah karena merasa tak pantas. Tetapi, Allah tetap saja Maha Pemurah dan Bapa yang baik hati. Ia tidak memperhitungkan dosa manusia, malahan Ia sendiri datang dan mencari untuk menyelamatkan.

Setiap orang berdosa tidak dengan mudah bisa memperbaiki diri dari kesalahan. Namun, hal yang mesti disadari bahwa Allah tidak pernah melarang anak-anak-Nya datang kepada-Nya. Janji Allah berlaku bagi siapa saja, sebab Ia menurunkan hujan dan memberi terang bagi orang baik dan jahat. Hal inilah yang ditegaskan oleh rasul Paulus supaya tak ada satu pun orang yang dapat menghakimi sesamanya. Allah berfirman, “Semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah”. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah dan akan memberi pertanggungjawaban sendiri kepada Allah.

Kesadaran macam inilah yang membuat Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan. Maka sesungguhnya iman kristiani mengarahkan orang beriman untuk menyadari bahwa kehidupan manusia tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain. Setiap kita punya konsekuensi iman untuk menyadarkan sesama tentang pentingnya pertobatan. Sebagaimana diingatkan rasul Paulus: “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan. Jadi entah hidup atau mati kita milik Tuhan”.

Komitmen iman untuk merubah diri dan berbalik pada Allah, yang telah datang mencari dan menyelamatkan, akan memberikan suatu jaminan kekal yakni keselamatan. Kerinduan inilah yang dikumandangkan oleh Pemazmur: “Aku ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya”. Maka bila pertobatan telah menjadi usaha kita menanggapi sikap Allah yang mencari dan menyelamatkan, akan ada sukacita di Surga karena satu orang berdosa yang bertobat.

“Jadi entah kita hidup entah mati, kita tetap milik Tuhan” (Rm. 14:8b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah kekuatan padaku dan arahkan hidupku pada pertobatan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini