Hari biasa (H)
Rm. 6:19-23; Mzm. 1:1-2,3,4,6: Luk. 12:49-53
Saudara terkasih, api merupakan hal yang biasa dalam kehidupan. Api merupakan elemen yang digunakan manusia untuk menunjang kehidupan. Pada hakekatnya api digunakan untuk membakar sesuatu. Bagi seorang ibu rumah tangga, api digunakan untuk memasak, memanaskan air, memanggang ikan, dll. Bagi seorang pandai besi, api digunakan untuk membentuk sebilah pisau, parang, dll. Api adalah elemen yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Namun, bagaimana jika api tersebut digunakan untuk membakar dunia? Hal inilah yang diungkapkan Yesus dalam Injil hari ini. “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu menyala.” Hal ini pasti akan membuat manusia merasa bingung dan takut. Mana mungkin Yesus yang hadir untuk menyelamatkan akan membakar bumi? Selain itu, hal ini akan membuat manusia merasa takut akan kehadiran dan kedatangan Yesus sendiri.
Saudara terkasih, pemahaman Yesus terhadap api berbeda dengan pemahaman dari pihak manusia. Api yang akan dilemparkan oleh Yesus ke dalam bumi adalah api kasih Allah. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Api kasih Allah adalah pribadi Yesus sendiri. Yesus adalah api beryala yang hadir dalam kehidupan manusia. Kehadiran-Nya adalah sukacita bagi umat manusia. Sebab Ia adalah keselamatan yang dijanjikan oleh Allah.
Rasul Paulus menambahkan bahwa kehadiran Yesus sekaligus membawa pemisahan di dalam dunia. Ia datang untuk memisahkan mereka yang berdosa dan mereka yang telah merdeka atas dosa. Mereka yang didapatkan beriman dan percaya kepada Allah akan memperoleh buah pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup kekal. Sedangkan orang yang jauh dan berada di jalan dosa akan masuk dalam maut, karena buah dari dosa adalah maut.
Saudara terkasih, keselamatan telah ada di hadapan kita saat ini: hal yang perlu adalah menyadari bahwa keselamatan sementara berlangsung dalam dunia ini. Api kasih Allah sementara membakar pribadi kita. Dengan demkian pandangan dan keterarahan hati kepada Allah harus diasah dan dipertajam. Api itu harus selalu berkobar di dalam diri kita. Menjauhi dosa dan mencintai kebenaran adalah sikap yang perlu dibangun.
(Fr. Christian Th Pontoh)
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu menyala” (Luk. 12:49).
Marilah berdoa:
Ya Allah, bakarlah kami dengan api kasih-Mu. Amin











