“Pewarta Kebenaran Kristus”: Renungan, Kamis 17 Oktober 2019

0
2489

Pw S. Ignatius dr Antiokhia (M)

Rm. 3:21-30; Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6; Luk. 11:47-54

Helen Keller, seorang penulis asal Amerika Serikat pernah berkata: “Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima.”

Kebenaran merupakan suatu hal yang sangat penting dalam hidup. Seperti dikatakan Hellen Keller, selalu ada telinga yang mendengarkan dalam setiap kebenaran. Tetapi, kebenaran yang dari Kristus tidak hanya untuk didengarkan saja. Kebenaran itu harus juga diterima.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini, baik dalam bacaan pertama maupun dalam bacaan Injil, mau menegaskan satu hal penting tentang sebuah kebenaran. Dalam bacaan pertama, rasul Paulus mengungkapkan satu hal tentang kebenaran yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Yang dimaksudkan oleh Paulus ialah kebenaran yang dilimpahkan oleh Allah. Kebenaran semacam itu diperoleh tanpa Hukum Taurat. Maksudnya kebenaran ini tidak melekat pada Hukum Taurat.

Namun menjadi pertanyaan, apabila kebenaran itu dilimpahkan oleh Allah, kepada siapakah Allah melimpahkan-Nya? Dan melalui siapa Allah melimpahkannya? Kebenaran ini dilimpahkan kepada semua orang yang percaya. Dan kebenaran ini diwujudnyatakan melalui prinsip yang praktis yaitu iman, yang objeknya yaitu melalui Yesus Kristus.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang kebenaran sejati. Kebenaran yang berasal dari Yesus. Yesus menegur kaum Farisi karena mereka membunuh para nabi. Mereka tidak menerima pesan para nabi dan tidak bertobat. Mereka menerima tanggung jawab atas penolakan dan penyingkiran Yesus Kristus. Mereka buta karena kecongkakan mereka. Karena pengetahuan mereka akan Kitab Suci. Mereka menutup mata terhadap kebenaran Yesus Kristus yang memperjuangkan amanat Kitab Suci tersebut. Mereka pun menghalang-halangi orang yang berusaha menuju kepada kebenaran itu.

Kitapun mungkin seringkali menjadi seperti orang-orang farisi. Kita sering menutup diri dari kebenaran. Sehingga menjadi penghalang bagi orang lain yang sungguh ingin mencari kebenaran. Bacaan-bacaan hari ini menyadarkan kita agar tetap terbuka terhadap kebenaran, serta kasih karunia yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Sehingga kita pun dapat selalu membagi dan mengungkapkan kebenaran kepada setiap orang. Dan menjadi bekal bagi kita untuk menjadi orang yang jujur dan diberkati oleh Allah.

(Fr Jeklin Mononimbar)

“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu” (Mzm. 86:11).

Marilah berdoa:Tuhan, jadikanlah kami orang yang mau menerima kebenaran-Mu, agar kamipun dapat menjadi sumber kebenaran bagi orang lain. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini