Hari Biasa (H).
Rm. 2:1-11; Mzm. 62:2-3.6-7.9; Luk. 11:42-46.
Dalam kehidupan zaman ini, banyak orang yang hidup dengan sikap egois. Artinya, tidak ada lagi saling menghormati, mencintai, dan lain-lain. Egoisme adalah suatu sikap yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan orang-orang yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Egoisme ini, terjadi karena orang merasa dirinya berkuasa atau biasanya disebut gengsi.
Istilah gengsi menunjukkan bahwa seseorang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang lain. Sehingga orang tersebut tidak suka untuk membantu, menolong bahkan berteman dengan mereka yang memiliki kedudukan yang paling rendah/miskin. Sikap egoisme ini, terdapat dalam keluarga, masyarakat dan bahkan Negara.
Injil Lukas hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kita tahu sikap dan tindakan dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang mempertahankan ego demi kebahagiaan dan kemakmuran hidup mereka. Mereka tidak peduli dengan apa yang mereka perbuat. Yesus menegaskan dan memperingatkan mereka: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tidak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”
Ungkapan ini menjelasakan bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang munafik. Mereka munafik karena sikap egois yang ada dalam diri mereka. Mereka merasa diri sudah bersih, suci, benar, dan sudah tahu segalanya, bahkan tidak mendengarkan perkataan siapa pun. Sikap dan tindakan yang mereka perbuat adalah benar-benar salah dan dosa. Tindakan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sering terjadi pada diri kita.
Tanpa kita sadari, sikap dan tindakan egois itu ada dan mungkin sudah melekat dalam diri kita. Seringkali kita menganggap orang lain itu rendah dan merasa diri tahu segalanya, seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Tindakan seperti itu dapat merusak keharmonisan dalam diri, keluarga, masyarakat, dan negara.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma juga menegaskan dan mengingatkan kita supaya janganlah kita saling menghakimi, tetapi berusaha untuk saling mencintai satu dengan yang lain. Untuk itu kita jangan hanya mengajarkan saja, tetapi tidak tahu melaksanakan. Kita hanya tahu menilai dan menghakimi orang lain, tetapi tidak tahu menilai dan menghakimi diri sendiri di hadapan Tuhan. Tuhan itu Maha Adil dan tidak memandang bulu semua orang.
(Fr Fidelis Solilit)
“…tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah” (Luk. 11: 42a).
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, berilah kami kekuatan untuk mengenal, memahami dan menilai diri kami. Amin











