“Usahakan!”: Renungan, Kamis 10 Oktober 2019

0
2250

Hari Biasa (H)

Mal. 3:13-4:2a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 11:5-13

Salah satu kecenderungan sifat manusia adalah tidak ingin diganggu. Apalagi jika gangguan itu dilakukan di waktu atau situasi yang tidak tepat. Misalnya saat keadaan hati sedang galau atau bahasa kerennya ngga mood (bad mood), ataupun pada waktu istirahat seperti tidur. Lebih parah lagi jika gangguan tersebut malah membuat seseorang merasa dirugikan. Keadaan demikian membuat kebanyakan orang akan menghindar atau bahkan menolak untuk melayani orang lain.

Demikian dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan ilustrasi tentang kemurahan hati seorang sahabat yang tetap membantu sahabatnya meski sudah tengah malam. Lewat ilustrasi tersebut Yesus mau menekankan bahwa kemurahan hati Allah Bapa jauh melampaui kemurahan hati manusia. Hanya saja dibutuhkan dedikasi tinggi untuk terus mengupayakannya, seperti: ketekunan, ketabahan, keyakinan serta kerja keras. Dengan kekuatan ilahi, Tuhan akan membantu setiap orang yang terus berusaha, sehingga setiap umat beriman harus senantiasa optimis dalam hidupnya. Roh Kudus akan senantiasa memberi yang terbaik bagi manusia ketika kita memintanya.

Sejalan dengan itu, Nabi Maleakhi menyerukan bahwa Tuhan memperhatikan dan mendengarkan orang-orang benar yang beribadah kepada-Nya. Mereka akan menjadi milik kesayangan-Nya dan Ia akan mengasihi mereka sebagai anak-anak-Nya. Relasi yang baik dengan Allah dan kepercayaan penuh akan kebaikan-Nya dapat memberanikan orang untuk meminta apa yang dibutuhkannya.

Seperti dalam mazmur hari ini yang menunjukkan bahwa jalan orang benar akan menghasilkan buah, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. Ketika kita menjadi orang benar maka keberhasilan akan menjadi milik kita. Begitu pula ketika kita menjadi orang yang jauh dari Tuhan, berarti kita mulai membuat jalan sendiri yang membawa kita pada kebinasaan. Tuhan tidak pernah membawa orang menuju kebinasaan, melainkan kita sendirilah yang memilih jalan tersebut dengan menjauhkan diri dari Tuhan.

Seperti api yang menyala, dan nyalanya naik ke atas tidak tanpa asap, demikian pula orang yang rindu akan hal-hal surgawi tetapi tidak bebas dari godaan-godaan pancaindra. Apa yang diminta, diinginkan dan dimohonkan janganlah dinodai oleh kepentingan diri sendiri sehingga menjadi tak murni dan tidak sempurna. Segala usaha dan upaya kita hendaknya dapat berkenan dan memberikan kehormatan kepada Allah. Dialah yang patut kita hormati dan muliakan.

(Fr. Leon Ze)

“… Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya”
(Luk. 11:13)

Marilah berdoa:

Ya Allah, mampukanlah aku untuk berusaha dan berdoa demi kemuliaan nama-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini