“Semangat Kemuridan”: Renungan, Sabtu 28 September 2019

0
2519

Hari biasa (H)

BcE Za. 2:1-5,10-11a; MT Yer. 31:10,11-12ab,13; Luk. 9:43b-45

Dalam hidup ada begitu banyak peristiwa, kisah dan kejadian yang mewarnai perjalanan kehidupan kita. Salah satunya ketika dipilih dan diberi tugas serta tanggung jawab dalam situasi tertentu. Kita sangat senang dan gembira serta menganggap hal itu merupakan hal yang berharga dalam hidup kita. Namun dalam proses pelaksanaannya kebanyakan dari kita sering hanya sungguh-sungguh di awal saja namun dalam pertengahan dan akhir kita malah lari, bersembunyi dan bahkan meninggalkan tugas dan tanggung jawab tersebut.

Hari ini Tuhan hendak menyadarkan kita dengan sabdaNya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Sabda ini dikatakan Yesus kepada orang banyak dan murid-murid-Nya untuk melihat kesungguhan hati mereka dalam mengikuti Yesus. Sebelumnya Yesus telah mengadakan begitu banyak tanda yang mengagumkan dan banyak orang heran terhadap tanda tersebut termasuk para murid. Mereka melihat tanda yang mengagumkan itu hanya melalui indra mata dan secara manusiawi mereka berpikir “orang ini hebat dan menjadi murid-Nya adalah suatu kebanggaan sehingga dapat melihat tanda-tanda selanjutnya.”  

Dalam suasana kegembiraan dan perasaan senang melihat tanda yang menggagumkan, Yesus kemudian berbicara mengenai kematian diri-Nya. Mengapa Yesus perlu memaparkan hal itu? Karena Ia tahu bahwa kebanyakan dari mereka masih ikut arus saja dan hanya ingin melihat karya pada tanda-tanda yang Dia kerjakan tanpa mereka sadar betapa besarnya tantangan dan kesulitan yang akan dihadapi karena mengikuti Dia dan upaya untuk menjadi murid-Nya.

Kita bangga menyebut dan disebut sebagai murid Tuhan. Namun kebanyakan dari kita tidak sadar dengan kebanggaan itu. Karena kita hanya mau menyenangkan hati dengan menyebut demikian supaya orang mengetahui identitas kita. Akan tetapi jalan untuk menjadi murid Tuhan, bukan melalui kegembiraan dan kesenangan duniawi semata, melainkan dengan percaya dan pengorbanan diri, melewati tantangan, kesulitan dan penderitaan. Karena dengan cara itu kita berpartisipasi dalam kematian dan kebangkitan Yesus. Maka menjadi murid Tuhan bukan soal ikut ramai melainkan membutuhkan kesungguhan hati dan komitmen. Dengan memusatkan perhatian pada Dia, kita akan selalu menemukan jalan keluar dalam setiap tantangan dan kesulitan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam panggilan hidup kita masing-masing.

Fr. Sonny Songbes

“Dengarlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” (Luk. 9:44)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantu aku untuk selalu setia menjadi murid-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini