“Mengikuti-Mu Menyembuhkanku”: Renungan, Sabtu 21 September 2019

0
2218

Pesta S.Matius, Rasul & PengInjil (M)

Ef.4:1-7,11-13; Mzm.19:2-3,4-5; Mat.9:9-13

Manusia cenderung membentuk suatu struktur kepengurusan organisasi yang didasarkan pada kemampuan, keterampilan ataupun pengalaman dengan perilaku moral yang baik. Para pengurus organisasi itu dipandang memiliki jaminan sekaligus ‘nilai jual’ bagi masyarakat, sehingga direkomendasikan menjadi bagian dari suatu kepengurusan dalam masyarakat. Kecenderungan manusiawi inilah yang cenderung ditemui, sebab tanpa adanya latar belakang yang baik, orang sulit untuk dipercaya untuk memegang suatu jabatan dalam masyarakat. Kecenderungan lainnya adalah manusia malas mencari kesembuhan, sebab hanya ketika ia merasa tidak dapat tahan lagi barulah ia serius mencari dokter atau tabib untuk menyembuhkan dirinya.

Berbeda dengan manusia pada umumnya, Yesus justru hadir sebagai pribadi yang berlawanan dengan kecenderungan tersebut. Matius, yang latar belakangnya termasuk buruk di kalangan masyarakat, justru dipilih dan dijadikan Yesus sebagai salah satu Rasul-Nya. Tentu saja bukan catatan buruk yang hendak diangkat oleh Yesus dalam pribadi Matius, melainkan kemungkinan pertobatan yang tulus dalam diri Matius. Yesus melihat kehendak dan kemauan Matius untuk mengikuti-Nya, dengan kesungguhannya untuk meninggalkan segalanya termasuk cara hidupnya yang lama dan memilih mengikuti Yesus. Kesungguhan Matius tampak pada tindakannya yaitu berdiri dan mengikuti Yesus. Yesus tidak melihat apa yang tampak oleh mata tetapi kemungkinan atau api pertobatan yang ada dalam diri Matius, yang sekaligus menyembuhkan dan memberi pengampunan kepada dirinya.

Sungguh jelas kedatangan Yesus ke dunia ini untuk menyelamatkan orang berdosa, merangkulnya, mengajak kembali kepada kasih Allah yang penuh. Yesus hadir sebagai tabib yang mencari orang sakit dan menyembuhkannya. Sungguh tindakan yang berlawanan dengan tabib pada umumnya. Hal ini tergambar jelas pada peristiwa ketika Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai di rumah Matius yang juga seorang pemungut cukai, dan kaum Farisi tidak bisa menerima dan menganggap bahwa hal itu tidak pantas dilakukan oleh Yesus.

Terkadang dalam hidup, kita pun menempatkan diri seperti kaum Farisi, menilai orang lain pantas atau tidak pantas diterima dalam Gereja. Kita menempatkan diri pada ‘tempat’ yang lebih tinggi dari orang berdosa, orang jahat yang tidak layak menurut kita. Padahal jika kita mau menempatkan diri kita sebagai orang berdosa, yang didatangi Allah, yang disembuhkan Allah, yang dikasihi Allah, maka pasti kita akan menjadi pribadi yang selalu bersyukur, yang juga pasti akan mampu menerima semua orang, bahkan yang kita anggap tidak baik sekalipun. Kita tidak pantas tapi Allah memantaskan kita.

(Fr. Thimoty Tappi)

“Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia “
(Mat. 9:9b).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, Terimakasih karena Engkau datang untuk menebusku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini