Hari biasa (H)
1Tim. 3:14-16. ; Mzm. 111:1-2,3-4,5-6; Luk. 7:31-35.
Dari dulu hingga sekarang, ujaran kebencian dan fitnah terhadap sesama masih ada. Kenyataannya, semua yang dipandang, dirasakan terhadap perbuatan orang, semuanya dianggap sama mengandung arti negatif. Hal demikian dialami oleh Yesus sendiri di Yerusalem. Perumpamaan Yesus merupakan sindiran untuk menyadarkan orang-orang saat itu, yang salah dalam penilaian terhadap Yesus.
Ketika membuat mukjizat seperti menyembuhkan orang sakit, Yesus dinilai bertindak atas kuasa Beelzebul. Namun semuanya bertentangan dengan eksistensi Yesus yang adalah Putera Allah yang bertindak atas kehendak Bapa-Nya. Maka Yesus dalam perumpamaan-Nya mengatakan, “Kami meniup seruling bagimu; kamu tidak menari, kami bernyanyi kidung duka; kamu tidak menangis”. Dengan kata lain mereka selalu mengartikan yang tidak benar atau bertentangan dengan kenyataan yang Yesus lakukan. Buktinya Yohanes pembaptis dan Yesu, dinilai sebagai orang yang salah dan melawan setiap hukum yang berlaku di Yerusalem, sehingga dipandang sebagai musuh mereka.
Ada keraguan yang muncul akan kuasa yang dimiliki oleh Yesus. Mungkinkah Yesus melakukan hal yang jahat sedangkan Ia lahir dari Kebenaran dan adalah Sang Kebenaran? Suatu kegagalan dalam menilai seseorang karena kurangnya pengenalan akan Yesus. Yesus hadir bukan untuk menjadi populer tetapi ia hadir untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kehadiran-Nya membawa kehidupan. Karena itu tidak baiklah memberikan penilaian-penilaian negatif terhadap seseorang.
Sekarang pun masih terjadi demikian seperti yang Yesus alami. Kata sindiran, ujaran kebencian, dan fitnah terhadap siapapun. Sikap menilai orang berlebihan sangat berbahaya sebab seringkali mengandung hal-hal negatif. Namun, dengan jelas Paulus tegaskan, “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” Penegasan yang menunjukkan bahwa Yesus yang direndahkan di mata manusia bahkan disalibkan, diangkat oleh Allah dalam kemuliaan.
Itu berarti kuasa diberikan hadir saat itu atas kehendak Allah dan dilakukan seperti apa yang dikehendaki Allah. Oleh sebab itu tingkatkanlah pengenalan kita akan Yesus Sang Kebenaran, agar kita mampu menilai dengan benar. Bukan pertama-tama menilai diri sendiri, sebab Yesus tidak pernah menilai bahkan meninggikan diri-Nya. Mulailah dari diri sendiri, berlaku dan bersikaplah baik karena dengannya kita akan menerima kebaikan.
(Fr. Jefry Fenanlampir)
“Agung bersemarak pekerjaan dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya” (Mzm. 111:3).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan Allahku, terangilah akal-budiku untuk semakin memahami setiap rencana-Mu. Amin











