“Hidup Baik dan Sehat”: Renungan, Selasa 17 September 2019

0
2494

Hari biasa (H)

1 Tim. 3:1-13; Mzm. 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6; Luk. 7:11-17

Pikiran yang baik bisa menghasilkan tubuh yang baik, dan pada akhirnya mendukung jiwa manusia untuk terarah pada kebaikan itu. Inilah satu kalimat yang kurang lebih mengarah pada satu ungkapan bijak yakni: “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Jiwa manusia bisa terarah pada kebaikan, jika didukung dengan tubuh yang baik pula. Tetapi sepatutnya tubuh yang baik pun sudah terlebih dahulu didukung dengan pikiran yang baik.

Bacaan hari ini mau mengajak kita untuk bermenung tentang menjaga “kesehatan” tubuh kita. Pemazmur berkata, “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku”. Hidup yang sehat dalam bahasa pemazmur ialah menjaga hidup yang baik; hidup yang layak di hadapan Allah; tidak mencemarkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan jahat; dan selalu mengarahkan seluruh dirinya kepada Allah sebagai Sang Kebaikan.

Rasul Paulus pun dalam suratnya kepada Timotius menuliskan berbagai syarat bagi mereka yang hendak menjadi penilik jemaat dan diaken. Dalam suratnya bagi para calon penilik jemaat, ia berkata: “… karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah… .” Pun dalam suratnya bagi mereka yang hendak menjadi diaken, ia berkata: “…jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci… .”

Semua syarat itu mau menegaskan bahwa manusia haruslah hidup tidak bercela. Dengan hidup tidak bercela, setiap manusia diharuskan untuk tidak mencemarkan dirinya baik secara jasmani maupun rohani. Untuk itulah, setiap manusia diajak untuk menjaga pikiran mereka, supaya bisa memperjuangkan tubuh yang baik dan pada akhirnya mencapai jiwa yang baik pula. Dengan demikian, setiap manusia bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah, karena telah didukung dengan pikiran dan tubuh yang sehat. Sehingga banyak manusia yang akan dibangkitkan oleh Allah dari kematian mereka seperti yang dialami oleh pemuda di Nain.

(Fr. Christiano Mandagi)

“Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya” (Luk. 7:16)

Marilah Berdoa:

Bapa Yang Maharahim, ampunilah aku, yang kurang memperjuangkan dan memperhatikan diriku supaya semakin dekat dengan Engkau, Sumber Kebaikan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini