Hari Biasa (H)
Yos. 3:7-10 a, 11, 13, -17; Mzm. 114: 1-2, 3-4, 5-6; Mat.18: 21- 19:1
Injil hari ini menceriterakan tentang model pengampunan seperti apa yang harus kita berikan kepada saudara kita yang berbuat dosa. Dalam Injil dikatakan bahwa Petrus datang dan bertanya kepada Yesus, ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”.
Maksud perkataan Tuhan Yesus di atas bukan merujuk pada nilai nominalnya. Kita harus mengampuni kesalahan atau dosa seseorang, tetapi lebih tepatnya Yesus mau menegaskan bahwa hal mengampuni dosa atau kesalahan seseorang haruslah tanpa batas. Seberapa berat dosa yang ia perbuat, kita harus mengampuninya dengan penuh keiklasan.
Hal mengampuni juga tidak mudah dan tidak gampang, apa lagi dihantui oleh perasaan sakit hati, kecewa bahkan marah yang menumbuhkan rasa dendam yang membara. Tetapi sebagai umat beriman, kita diajar sekaligus diajak oleh Yesus untuk dengan kerendahan hati, membuka tangan serta hati kita untuk mengampuni mereka yang membuat kita sakit hati.
Kita harus melihat, mengingat dan belajar dari Tuhan Yesus sendiri. Dengan kerendahan hati Ia mengampuni dan memaafkan kita anak-anak-Nya. Padahal, kita telah membuat Ia menderita sampai wafat di kayu salib. Pengampunan yang ikhlas memang datang dari Yesus yang luar biasa mencintai kita. Pengampunan memang berasal dari orang-orang luar biasa kuat, rendah hati dan bijaksana. Karena orang kuat, rendah hati, dan bijaksana tahu bahwa pengampunan yang ikhlas itu memang membuka masa depan baru bagi orang lain dan bagi dirinya juga.
(Redaksi LJ)
“Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hati ” (Mat. 18: 35).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, berilah aku hati yang ikhlas untuk mengampuni kesalahan orang lain. Amin











