Hari Biasa Pekan III Paskah (P)
Kis. 9:31-42; Mzm. 116:12-13,1415,16-17; Yoh. 6:60-69.
Ada seorang pria yang selalu meragukan kehadiran Tuhan di tengah kehidupan manusia. Ia selalu bertanya apakah Tuhan benar-benar ada? Jika ada, mengapa sulit untuk memahami-Nya? Dalam dirinya, ada begitu banyak pertanyaan lain mengenai hakekat Yesus yang membingungkan. Setelah beberapa tahun, ia kemudian menjadi percaya dan mengimani Tuhan dengan benar. Orang-orang di sekitarnya pun bertanya padanya, “Bagaimana ia bisa bertobat dan menjadi pengikut Yesus yang setia?” Ia pun mengungkapkan bahwa dulu dia sering mendengar tentang Yesus dari berbagai pihak, tetapi tidak pernah mau mengenal-Nya secara lebih intim. Setelah ia mengenal Yesus secara pribadi lewat doa dan pengalaman hidupnya, barulah ia sadar akan penyelenggaraan Tuhan.
Bacaan Injil hari ini menampilkan bahwa banyak murid-murid Yesus mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti-Nya, karena perkataan-Nya yang menurut mereka begitu keras. Sebenarnya sikap para murid ini menunjukkan kalau mereka belum mampu memahami misteri Yesus Kristus. Mereka hanya melihat tindakan dan mendengar perkataan Yesus secara harafiah. Mereka belum mampu untuk melihat dan memahami makna dibalik kata-kata dan peristiwa yang terjadi.
Mereka mengikuti Yesus ke mana saja Ia mengajar dan memberi mereka makan, namun mereka belum mengenal kedalaman diri-Nya. Pengajaran Yesus dirasa keras, sehingga mereka bingung; bagaimana mungkin orang dapat memperoleh kehidupan kekal melalui makan daging-Nya dan minum darah-Nya? Hal ini menunjukan kalau mereka belum mampu menangkap makna rohani dari perkataan Yesus. Hal-hal duniawi telah menutupi mata dan pikiran mereka sehingga mereka memilih jalan yang salah. Bahkan salah seorang rasul Yesus akan menghianati Yesus.
Iman kita sering kali seperti demikian. Kadang kita merasa Yesus tak kunjung mengabulkan permohonan kita. Tak jarang, karena kecewa dan sakit hati, kita melawan ajaran Yesus demi memperoleh kesenangan diri semata. Kesenangan ini pun bisa saja merugikan orang lain. Seharusnya kita menghadapi kekecewaan dan sakit hati dengan tenang dan selalu menyadari kalau itu terjadi karena kesalahan kita.
Memang, dalam berbagai kesempatan, kita merasa apa yang dikehendaki Tuhan itu berat. Namun, cobalah lebih banyak bersyukur dan kurangi mengeluh. Hindari sikap yang seakan memaksa Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Kita juga berusaha menjadi murid yang sejati. Berusahalah memahami pengajaran Yesus dan tetap percaya bahwa Yesus-lah Mesias. Percaya bahwa melalui Dia kita memperoleh hidup kekal.
(Fr. Rhio Sakbal)
“Kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh. 6:69)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, aku selalu percaya kepada-Mu dan semoga tetap setia dalam menjalani semua perintah-Mu. Amin.











