“Penyerahan Diri”: Renungan, Jumat 20 April 2018

0
2982

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.

Masa Paskah adalah saat pengungkapan identitas, kualitas serta misteri seluruh pengajaran Yesus. Para nabi telah menubuatkan bahwa akan lahir seorang utusan Allah, yang adalah satu dengan Bapa, Dia berasal dari Bapa dan Dia adalah penyelamat. Nubuat itulah yang terpenuhi dalam diri Yesus, sehingga liturgi Gereja meletakkan perayaan Paskah sebagai puncak keselamatan. Maka lewat perayaan Paskah, orang percaya, yang menyerahkan seluruh hidupnya pada ketaatan akan ajaran Yesus, dimerdekakan oleh peristiwa kebangkitan-Nya. Para pendosa yang bertobat pun memperoleh kebebasan dari ikatan dosanya.

Kita bisa melihat pengalaman pertobatan Paulus untuk menggambarkan bagaimana panggilan Allah itu membutuhkan sebuah penyerahan diri yang total, berbalik dari dosa dan kemudian menatap kebenaran yang dibukakan oleh Allah, serta pada akhirnya hidup sebagai orang pilihan Allah. Kisah pertobatan Paulus menyadarkan kita akan betapa pentingnya penyerahan diri untuk menjadi pengikut Kristus di dunia zaman sekarang. Untuk itulah kita dipanggil untuk ambil bagian dalam setiap perayaan Ekaristi, sebagai anamnesis atau pengenangan akan penyerahan diri Yesus kepada Bapa lewat sengsara, wafat dan akhirnya dibangkitkan sebagai pemberi kemenangan.

Itulah mengapa, penginjil Yohanes mengungkapkan penggambaran diri Yesus sebagai Roti Hidup dengan sebuah kiasan untuk makan dan minum darah-Nya. Dan untuk memahami ungkapan Yesus itu, hal yang perlu adalah bagaimana iman kita memahaminya sebagai suatu penyerahan diri sungguh-sungguh dari Yesus untuk tugas menyelamatkan semua orang dan memberikan hidup bagi kita semua. Dari sini pula kita dapat memahami bagaimana darah dan tubuh adalah dua unsur terpenting untuk menggerakkan jiwa kita. Tubuh dan darah Yesus pulalah yang membawa kehidupan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Sekarang, bagaimana dengan diri kita? Penyerahan diri yang dimaksudkan Yesus yakni tanggapan kita untuk memberi kehidupan bagi orang lain. Dan hal ini, telah diwujudkan Paulus sebagai pewarta yang menghidupkan iman banyak orang. Maka dalam masa Paskah ini kita diajak untuk menyerahkan diri kita sebagai mitra kerja Allah untuk memberi kehidupan bagi semua orang. Dengan begitu, semoga kelak semua bangsa yang memperoleh kehidupan itu memberi pujian dan memegahkan Dia. Kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan-Nya tetap untuk selama-lamanya.

(Fr. Edward Salilo)

 

“..Sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku” (Kis 9:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami hidup dalam sebuah penyerahan diri untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini