“Suara Hati”: Renungan, Kamis 19 April 2018

0
4982

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9,16-17,20; Yoh. 6:44-51.

John Henry Newman, seorang kardinal dan teolog besar Inggris, pernah mengatakan, “suara hati adalah tempat di mana manusia bersentuhan dengan realitas Ilahi.” Menurut Newman, dalam suara hati, kita menyadari bahwa kita punya kewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar, serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagaikan panggilan dari Allah yang berkuasa atas diri kita. Kalau kita mengikutinya, akan membuat kita merasa bernilai, aman dan sedia untuk menyerah padanya. Begitu pula bagi Immanuel Kant, filsuf ternama asal Jerman, yang berpendapat bahwa kesadaran moral manusia tidak dapat dimengerti kalau tidak diandaikan bahwa ada Allah.

Injil hari ini mau menyampaikan 2 hal penting bagi kita. Pertama, siapa pun yang membuka diri terhadap Tuhan, ia menerima Yesus dan seluruh rencana karya penyelamatan-Nya. Jika benar-benar terbuka dan setia kepada-Nya, kita akan merasakan dorongan Tuhan dalam diri, yang menarik kita menuju kepada Yesus. Kita pun akan menyadari bahwa Yesus datang dari Allah. Yesus mengingatkan bahwa kita tidak menemukan-Nya, tetapi Bapa yang menemukan kita dan membawa kita kepada Yesus sebagai Jalan menuju Bapa sendiri. Di sini Yesus meneguhkan Perjanjian Lama: “Semuanya akan diajarkan oleh Allah” (Yes. 54:13).

Kedua, sebagai kelanjutan dari yang pertama, Yesus mempermudah jalan kita dengan memberikan tubuh-Nya sendiri dalam rupa roti. Sabda Allah telah menjadi daging, dan daging itulah yang kita terima setiap kali merayakan Ekaristi. Menerimanya berarti kita bersatu dengan Sabda Allah, sehingga Sabda itu bisa berbuah nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sejak penciptaan, Allah sudah memberikan Roh Kudus untuk menyertai kita. Itulah sebabnya hati kita seakan-akan ditarik kepada kebaikan ketika berhadapan dengan situasi yang menuntut kebaikan itu sendiri. Roti Hidup yang kita terima setiap kali merayakan Ekaristi pun membekali kita dalam memahami rencana Allah lewat kebaikan itu. Menerima komuni kudus berarti menerima Allah seutuhnya di dalam diri kita. Akan tetapi, godaan dan tantangan dunia seringkali menjauhkan kita dari kehendak Allah. Kita sudah menerima komuni kudus, tetapi hidup kita sendiri belum berubah. Ini berarti diri kita belum sepenuhnya siap menerima rahmat Allah yang begitu besar. Mari kita belajar mengikuti suara hati dan berani membuka diri untuk menerima rahmat Allah.

(Fr. Tino Kebubun)

“Setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.” (Yoh. 6:45b)

Marilah berdoa:

Semoga hatiku selalu tertuju kepada-Mu, ya Tuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini