“Yesus Sang Psikolog”: Renungan, Sabtu 8 Juni 2019

0
2063

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)

Kis. 28:16-20,30-31; Mzm. 11:4,5,7; Yoh. 21:20-25

Sabda Tuhan hari ini memperdengarkan kepada kita tentang murid yang dikasihi Yesus. Di dalam teks Injil Yohanes ada sebuah dialog singkat antara Petrus dan  Yesus. Dialog tersebut mengungkapkan beberapa hal penting. Pertama, kehendak Yesus. Hal ini sangat nampak jelas dalam perkataan Yesus yakni: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu”. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa kehendak Yesus di atas segala-galanya. Kehendak-Nya melampaui segala daya pengertian manusia. Dan kehendak-Nya selalu berada dalam orientasi keselamatan. Kehendak-Nya selalu membawa kebaikan bagi manusia. Karena itulah, Yesus menegur Petrus untuk tidak turut terlibat dalam urusan Kristus. Mereka memiliki tugas yang telah dipercayakan. Fokus dan arahkanlah seluruh tenaga kepada tugas dan tanggung jawab yang diterima.

Kedua, cemburu. Hal ini merupakan sifat dasar manusia yang sering bersifat destruktif. Misalnya, karena cemburu ia membunuh, menghina, dan sebagainya. Sifat demikian juga nampak dalam diri Petrus. Adalah baik karena tidak menjadi basis tindakan destruktif bagi diri sendiri dan orang lain. Baik karena tidak merusak hubungan Petrus dengan Yesus dan murid lainnya.

Yesus bagaikan seorang psikiater terbaik yang mengerti situasi demikian dan dengan cara-Nya mampu untuk mengembalikan situasi menjadi baik. Yesus tahu bahwa konsekuensi dari sifat ini dapat merusak sehingga mengalihkan keadaan menjadi lebih baik. Inilah sebuah bentuk tindakan preventif dari Yesus.

Sekarang kita berada dalam suatu peradaban dunia yang sangat maju dengan segala keberadaannya, terutama teknologi yang semakin canggih. Semuanya ini menjadi sarana dalam membangun relasi dan komunikasi yang baik. Namun, tak jarang manusia menjadi korban dari arus perubahan. Teknologi menjadi tuan atas manusia. Teknologi digunakan untuk ujaran kebencian, penistaan, hoax dan lain-lain. Semuanya ini berbasis pada sifat manusia yang bersifat merusak kehidupan sendiri dan orang lain.

Berhadapan dengan situasi demikian, sabda Tuhan  hari ini mengingatkan kita untuk menyelamatkan mereka dari korban sifat dasar manusiawi. Kita mesti menjadi seperti Yesus yang mampu menyelamtkan manusia dari krisis yang dialami. Krisis mentalitas mendorong manusia bertindak berbahaya.

(Fr. Yakobus Weridity)

“Tuhan menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kelaliman” (Mzm. 11:5).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami untuk menghadapi sifat dasar manusiawi kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini