“Jadilah Saksi Iman” : Renungan, Rabu 5 Juni 2019

0
3106

Pw S. Bonifasius, UskMrt(M)

Kis. 20:28-38; Mzm. 68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh. 17:11b-19     

Dalam kehidupan kita sehari-hari,  menipu diri sendiri lebih mudah daripada menipu orang lain. Terkadang niat yang baik kita lakukan sangat mudah kita tinggalkan sehingga, kita sering dikunci dalam ‘tembok-tembok’ diri kita. Kita mengunci diri karena berbagai macam aspek seperti kelemahan-kelemahan kita. Keadaan ini membuat kita takut untuk membuka diri dan keluar dari keterpurukan. Bagaimana cara mengatasi situasi demikian? Yaitu dengan mendengarkan Sabda Tuhan, merenungkan dan melaksanakannya. Hal ini membantu untuk mendorong kita melangkah keluar dan lebih jauh lagi untuk melihat diri kita.

Bacaan Injil hari ini menceritakan kisah tentang Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk para murid. Tujuannya agar para murid memperoleh perlindungan dan kekudusan dari firman Allah yang adalah kudus.  Namun sesungguhnya, doa Yesus bukan hanya untuk para murid yang telah hidup bersama dengan Yesus pada 2000 tahun yang lalu. Tetapi, doa Yesus itu tetap relevan bagi kita yang adalah murid-murid Yesus di zaman sekarang ini.

Hal ini pula memberikan peringatan kepada kita untuk selalu tekun dan setia membuka diri terhadap sabda Allah serta melaksanakannya.  Dengan begitu, kita semakin berani menjadi saksi iman di tengah dunia ini. Kita pula dapat meneladani St. Bonifasius yang diperingati hari ini. Ia adalah seorang martir yang wafat karena membela iman sampai menumpahkan darah. Inilah yang disebut dengan saksi iman sejati.

Pada kenyataannya, terkadang kita merasa takut untuk menjadi saksi iman di zaman sekarang ini. Kita malu terhadap orang-orang di lingkungan yang beranekaragam. Tetapi, kita perlu ingat bahwa rasa takut adalah musuh sekaligus teman, lawan sekaligus sekutu. Keberanian tidak lain adalah kemampuan untuk menghadapi rasa takut.

Melalui Injil hari ini, kita telah mendapatkan kekuatan untuk berani menjadi saksi iman. Yesus sendiri telah berdoa kepada Bapa agar kita memperoleh perlindungan dan kekudusan. Caranya, kita perlu berani membuka hati kita untuk mendengarkan dan mewartakan Injil. Tidak hanya itu, kita juga telah belajar dari keteguhan St. Bonifasius yang menjadi pembela iman. Iman yang diajarkan dengan mulut telah dimeteraikan dengan darah. Kiranya iman yang diterima, kita pegang teguh dan amalkan setiap hari.

(Fr. Emanuel Paji Sopa)

Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yoh. 17:16).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, mampukanlah aku untuk menjadi saksi iman akan Dikau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini