Pw S. Karolus Lwanga dkk.Mrt (M)
Kis. 19:1-8; Mzm. 68:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh. 16:29-33
Banyak dari kita mungkin tidak terlalu tahu tentang perayaan litugi hari ini. Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan perayaan wajib St. Karolus Lwanga serta teman-temannya yang merupakan martir di daerah Uganda Afrika. Para martir Uganda dibunuh karena membela iman Katolik mereka. Uganda pada saat itu dipimpin oleh seorang raja bengis, yang bertindak semena-mena terhadap kemanusiaan di daerah itu. Kekatolikan dipandang sebagai sesuatu yang menghalangi praktik animisme serta prostitusi raja. Karolus yang pada waktu itu menjadi pelayan istana beserta teman-temannya menjadi korban karena kebencian raja terhadap Kekristenan.
Kemartiran para murid-murid Yesus termasuk para martir di Uganda, sungguh sebuah peristiwa yang membuat banyak orang, termasuk kita sendiri bisa merefleksikan seberapa jauhkah kita mengimani Kristus?
Rasul Paulus dalam bacaan pertama menegaskan kepada kita tentang rahmat baptisan yang telah kita peroleh pada saat menerima sakramen pembaptisan. Roh Kristus yang dicurahkan kepada kita harus dihidupi secara terus menerus dengan keluar dari sikap menutup diri terhadap dunia luar, terhadap realitas sosial yang bertentangan dengan ajaran Kristus sendiri. Di zaman kita sekarang nilai kemartiran menjadi sesuatu yang sudah mulai langka. Jangankan kemartiran, pengorbanan yang sederhana saja menjadi sulit ditemui. Kehadiran teknologi yang semakin canggih membuat orang menghindar dari sifat-sifat kemartiran.
Penganiayaan-penganiayaan di zaman modern mungkin tidak seberat dan sesadis para martir Uganda yang kita rayakan hari ini. Mereka berjalan kurang lebih 60 Km jauhnya menuju tempat eksekusi. Setelah itu, mereka dibakar hidup-hidup. Tetapi tantangan kita untuk mau menjadi martir ada pada diri sendiri. Penganiayaan bukan hanya datang dari luar tapi datang pula dari dalam diri kita.
Yesus sendiri telah mengingatkan kita lewat bacaan Injil hari ini: “Aku telah mengalahkan dunia”. Kekristenan telah hampir diterima di mana-mana. Ancaman pembunuhan, persekusi terhadap orang beragama termasuk Kristen menjadi hal yang dikutuk dunia. Maka dari itu rahmat Roh Kristus yang diterima melalui sakramen, serta cahaya para martir Uganda, harus menjadi senjata bagi kita untuk berperang melawan keegoisan, kesombongan, acuh tak acuh, yang ada dalam diri kita, yang menghalangi kita untuk menjadi martir di zaman milenial.
(Fr. Geraldo Lolong)
“Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita” (Mzm. 68:4).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, tanamkanlah dalam diriku semangat kemartiran. Amin











