Hari biasa pekan V Paskah (P).
Kis. 16:1-10; Mzm. 100:1-2,3,5; Yoh. 15:18-21
Benarlah kata-kata ini, “Jikalau dunia membenci kamu ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”. Kata-kata ini mau menggambarkan bahwa Tuhan berkehendak agar kita selalu kuat untuk melakukan yang benar dihadapan-Nya. Artinya pengalaman ditolak dan dibenci orang bukan menjadi alasan untuk menyerah sebagai pengikut Kristus. Hal ini mau mengingatkan kita untuk selalu kuat.
Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan mencintai. Walaupun demikian, tidak ada jaminan bila kita mencintai kita harus dicintai. Ada kalanya terjadi, cinta tulus dibalas dengan kebencian, cacian, dan hinaan. Namun, hal ini tidak boleh mengaburkan semangat kita. Jika kita hanya mencintai orang yang mencintai kita, bukankah hal itu dilakukan juga oleh orang lain yang tidak mengenal Allah?
Yesus ingin agar kita tidak sama dengan dunia yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Hidup baru membuat kita mencintai orang lain sama seperti cinta Yesus kepada umat-Nya. Ia rela menderita, wafat dan bangkit demi dosa umat manusia. Selain mencintai, hendaknya kita pun setia. Setia sebagai orang beriman berarti siap menerima konsekuensi berbagai macam tantangan. Maka benarlah sabda Yesus ini “seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya”.
Paulus dalam bacaan pertama mendapat penglihatan dari Allah. Ia memanggil Paulus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia. Hal ini hendaknya mau menggambarkan kesetiaan Paulus sebagai rasul yang siap untuk diutus.
Kita pun dituntut untuk beriman kepada Yesus Kristus, membuka mata, hati dan telinga kita guna melihat dan mendengarkan panggilan Allah. Ia memanggil kita sebagai murid-Nya untuk melakukan pembaharuan serta melaksanakan tugas misioner.
Marilah kita wartakan kabar baik lewat karya penyelamatan Allah kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Marilah dengan jiwa besar dan hati rela berkorban, kita siap sedia menderita demi keselamatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia.
Dengan demikian, kita akan mendapat suatu kebahagian dan sukacita yang sungguh berasal dari Allah. Karena itu, “bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Beribadalah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap Turun-temurun”.
(Fr. Andarias Lalin)
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh. 15:18).
Marilah berdoa:
Tuhan Yesus, bebaskanlah aku dari kesempitan cinta diri, agar aku dapat merasul membangun dunia baru dan agar banyak orang menikmati damai sejati. Amin.











